🎁 Spesial buat pengunjung Idblogpacker, akan ada yang spesial dalam 5 detik...

Tampilkan postingan dengan label Amurang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amurang. Tampilkan semua postingan

Benteng Portugis Amurang

manado.tribunnews.com
Benteng Portugis itu terletak di Amurang, ibukota Kabupaten Minahasa Selatan, sebuah kabupaten di bagian selatan Provinsi Sulawesi Utara. Amurang memiliki teluk yang punya jejak historis tempat singgahnya berbagai bangsa dari belahan dunia ketika itu.

Amurang berasal dari kata Amoer yang merupakan nama sebuah sungai di daerah Manchuria. Sungai itu ramai dilalui bangsa Portugis dan Spanyol saat berdagang ke Tiongkok dan menjadi jalur penting bagi perdagangan. Ketika Portugis menginjakkan kakinya di Sulawesi Utara pada sekitar tahun 1500-an, mereka melihat kekayaan alam di daerah Selatan ini berupa rempah-rempah. Dan jadilah tempat rempah-rempah itu ramai dengan kegiatan perdagangan berbagai bangsa.

Oleh bangsa Portugis, mereka menamakan daerah itu dengan sebutan Amoer. Lalu kedatangan bangsa Belanda menyebut kata Amoer dengan dialek mereka, Amoerlang dan hingga kini menjadi Amurang.

Ramainya perdagangan waktu itu membuat banyak bangsa yang mampir ke Amurang. Sehingga kini masih banyak dijumpai penduduk Amurang yang merupakan keturunan balsteran Portugis, Belanda, Spanyol, Inggris, Jerman bahkan Yahudi. Orang Belanda menyebutnya sebagai keturunan Boerger atau sekarang dikenal sebagai orang Borgo.

Benteng Pertugis di Amurang bisa dijumpai di Kelurahan Uwuran Satu, Kecamatan Amurang. Letaknya mudah sekali dijangkau, karena tepat berada di samping Pasar Amurang. Diperlukan waktu sekitar satu jam dengan kendaraan mobil dari Manado untuk mencapai lokasi benteng ini.

Saat Kompas.com berkunjung ke benteng itu, terlihat sebuah bangunan kokoh dari batu yang berbentuk huruf D setengah bulatan, setinggi kurang lebih tiga meter. Bangunan ini hanyalah sisa dari bangunan benteng secara keseluruhan yang dulunya meliputi kawasan seluas tiga hektar. Kini luas area benteng itu sendiri tersisa 25 x 50 meter yang sudah dipagari oleh pemerintah daerah Minahasa Selatan.

Portugis membangun benteng ini pada waktu itu untuk melindungi aktivitas perdagangan mereka di Amurang dari ancaman perompak. Pada tahun 1943 saat Perang Dunia II, benteng ini diserang habis-habisan oleh tentara sekutu, sehingga menyisahkan apa yang bisa dilihat sekarang.

Benteng ini semula dibangun di tepi pantai hanya untuk menampung para serdadu dan rohaniawan Portugis. Tetapi karena letaknya yang strategis, benteng ini kemudian menjadi pusat penaklukan Portugis ke wilayah Minahasa lainnya.

Ketika masih utuh, benteng ini dilengkapi dengan senjata meriam yang menghadap langsung ke arah Teluk Amurang. Terdapat pula beberapa bangunan pelengkapnya, seperti barak, gudang, fasilitas militer bahkan sebuah kapel (gereja kecil). Pada tahun 1700-an, bangsa Belanda menguasai benteng ini dan kehadiran mereka banyak mempengaruhi sejarah orang Minahasa.

Benteng Portugis di Amurang ini bisa dijadikan sebagai jejak sejarah perjalanan panjang orang Minahasa. Beberapa jejak sejarah itu, selain terlihat dari kehadiran Benteng, juga bisa ditemui dari berbagai benda peninggalan bangsa Eropa yang sering ditemui warga ketika melakukan penggalian.

Sayang beberapa meriam yang dulunya masih ada di benteng Portugis ini, kini sudah raib. Menurut keterangan penduduk yang berada di sekitar benteng, dulu ada enam meriam. Tetapi meriam-meriam itu kemudian dipindahkan oleh penguasa pada waktu itu, karena belum adanya undang-undang yang mengatur mengenai benda-benda purbakala dan sejarah. [sumber http://travel.kompas.com/ ]
Share:

Air Terjun Winosirang

http://deliksulut.com
keindahan Air Terjun Winosirang, Desa Toyopon, Kecamatan Motoling Barat, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) akan memikat hati pengunjung.

Meski jarak tempuh menuju cukup jauh sekitar 10 kilometer dari Desa Raanan Baru, Kecamatan Motoling Barat namun saat tiba lokasi dengan pemandangan alam yang masih alami, akan sepadan dengan perjalanan jauh yang ditempuh dengan disuguhkan.

Air Terjun Winosirang yang berarti aerjatuh (Air Jatuh) memang layak anda mencoba untuk mengunjungi, namun salah satu kendala akses jalan yang belum memadai, sehingga jarang dikunjungi.

Menurut generasi muda Motoling menyatakan tempat tersebut pada waktu dulu ramai di kunjungi, namun sayang beberapa tahun terakhir jarang di kunjungi, diakibatkan akses jalan belum tersentuh pemerintah daerah, khususnya instansi terkait.


Air terjun winorsirang, kini hanya dikunjungi sebatas penggiat alam saja, besar harapan mereka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minsel menjadikan lokasi wisata alam yang layak dikunjungi, dengan membuka akses jalan menuju lokasi.

Berikut cuplikan videonya:


Share:

Danau iloloy

http://orlanfm.blogspot.co.id
Danau iloloy adalah salah satu danau yang dimiliki desa mokobang yang berlokasi jauh di dalam hutan yang ada di desa mokobang. DAnau ini sangat indah dengan dikelilingi hutan hijau dan gunung serta beberapa pondok (sabuah) dari nelayan yang berasal dari beberapa desa antara lain desa Temboan dan tentunya nelayan asal desa mokobang. Danau iloloy menjadi salah satu kebanggaan masyarakat desa mokobang, khususnya bagi nelayan dan keluarganya karena danau ini merupakan tempat pencaharian nafkah utama bagi mereka.

Pesona danau iloloy sangat kuat. Airnya yang jernih dengan kekayaan akan beberapa jenis ikan seperti ikan mujair, ikan mas, ikan kabos, dan beberapa jenis ikan lainnya serta diperindah dengan rumput ilalang dan teratai serta berbagai jenis burung yang ada membuat danau iloloy sangat terkenal di daerah Minahasa bagian selatan khusunya di wilayah kecamatan Modoinding, Tompaso Baru dan sekitarnya.
Share:

Pantai Guci Batu Kapal

travel.detik.com
Pantai Guci Batu Kapal yang terletak di Kalianda, Lampung Selatan memiliki bibir pantai yang cantik ditambah keindahan matahari terbenam yang tak terlupakan. Namun di balik keindahan yang ditawarkan pantai ini, ada cerita legenda dibalik nama Pantai Guci Batu Kapal.

Sebuah cerita legenda kuno menjadi latar belakang nama dari tempat ini. Di pantai ini terdapat batu-batu karang yang berbentuk menyerupai kapal. Batu-batu karang itu dapat kita lihat di sisi kanan pantai. Konon tempat ini adalah sebuah pelabuhan.

Menurut Legenda, batu-batu karang yang ada di tengah laut itu dulunya adalah kapal-kapal bangsa asing pada zaman Majapahit. Si Pahit Lidah tidak menyukai itu lalu mengutuk mereka menjadi batu. Si Pahit Lidah adalah tokoh legenda di Sumatera yang memiliki kesaktian mampu mengubah apa pun yang dikutuknya menjadi batu. Menurut cerita, dia bernama asli Serunting, seorang pemuda asal jazirah Arab yang berkelana ke Sumatera dan masuk melalui Aceh. Wilayah kelananya meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Lampung.

Berikut rute untuk menuju pantai  guci batu kapal:

Jika kalian dari Kota Bandar Lampung, kalian akan menempuh jarak sekitar 67,8 Km, menuju ke Desa Maja, Kalianda Lampung Selatan, Anda bisa menaiki Bus yang menuju arah Bakauheni,
Biaya Bus standar dengan biaya Rp.10.000 - Rp.20.000
Bus Eksekutif dengan biaya Rp. 20.000 - Rp.50.000
Jika kalian sudah naik bus, anda bisa menaiki ojek untuk menuju ke pantai guci batu kapal desa maja kalianda, lampung selatan.
Biaya naik Ojek sekitar Rp.10.000 - Rp.30.000

 Jika kalian dari Luar Lampung, start kalian dari bakauheni akan menempuh jarak sekitar 31 Km, menuju ke Desa Maja, Kalianda Lampung Selatan,

Anda bisa menaiki Bus yang menuju arah kota Bandar Lampung, tapi anda turun di sekitar kecamatan kalianda ya, tepatnya mau kedesa maja
Biaya Bus standar dengan biaya Rp.10.000 - Rp.20.000
Bus Eksekutif dengan biaya Rp. 20.000 - Rp.50.000
Jika kalian sudah naik bus, anda bisa menaiki ojek untuk menuju ke pantai guci batu kapal desa maja kalianda, lampung selatan.
Biaya naik Ojek sekitar Rp.10.000 - Rp.30.000

Berikut videonya:




Share:

AIR MUJIZAT DI DESA LALUMPE

http://iswadisual.blogspot.co.id/
Salah satu hal yang khas di desa Lalumpe - yang namanya diambil dari nama jenis tanaman kayu ini - yang sudah menjadi legenda dan cerita turun temurun adalah Air Mujizat. Hal unik pertama yang akan muncul ketika kita bertanya tentang desa ini adalah Air Mujizat; baik orang tua maupun yang muda. Ceritanya di mulai sekitar tahun 1937 ketika rombongan mapalus yang berjumlah 13 orang yang dikepalai oleh Simson dan Aflis Sengkey sedang kehausan dan mencari air di perkebunan yang disebut maumbi. Kedua orang tersebut merupakan tua-tua jemaat di Pantekosta. Tetapi rombongan mapalus itu merupakan gabungan dari jemaat Pantekosta (GPDI), GMIM, dan Katolik.  Pada waktu itu musim kemarau yang cukup panjang berlangsung sampai sepuluh bulan. Sumber mata air desa sudah kering sehingga terjadi krisis air dan orang-orang mulai mencari sumber mata air yang baru.
Terinspirasi dari kisah Musa dalam kitab suci orang Kristen (Alkitab) maka dengan iman mereka berdoa – yang dipimpin oleh Simson Sengkey - kepada Tuhan. Awalnya tanah menjadi lembab dan akhirnya dari antara bebatuan yang terletak di lereng bukit muncullah mata air. Air yang ada di situ cukup melegenda oleh karena tak pernah menjadi kering sekali pun di musim kemarau yang panjang. Anehnya juga air di tempat ini tidak ditinggali katak atau jentik nyamuk padahal airnya tidak mengalir. Dalam masyarakat desa Lalumpe yang sangat religius-kristen menjadikan tempat ini sebagai bukti iman mereka sehingga di tahun 2011 pada HUT GPDI dibuat aksi teaterikal tentang mujizat Tuhan di desa Lalumpe. Air mujizat ini hanya merupakan genangan yang tidak mengalir walaupun tempatnya di kemiringan. Kondisi tempat air mujizat dari tahun ke tahun terjadi perubahan baik secara alami maupun campur tangan masyarakat desa. Dulunya, menurut seorang warga desa genangan air di tempat itu ada beberapa tetapi memiliki pusat genangan yang lebih besar dari yang lain. Tetapi sekarang ini tinggallah satu genangan air di sana.
Dari tahun 1937 sampai 1962 cerita tentang air mujizat terlupakan dan akhirnya seorang pendeta yang juga sebagai wartawan yaitu Nicky Sumual berusaha menggali sejarahnya kembali untuk melengkapi sejarah perkembangan Pantekosta. Dalam kurun waktu ini nama untuk menunjukkan tempat bersejarah itu belum ada sehingga terjadi tawar menawar antara Pendeta Kumajas dan Nicky Sumual untuk memberi nama tempat itu. Pendeta Kumajas menawarkan nama air Mujizat sementara Pendeta Nicky Sumual mengusulkan nama Air Sembayang. Tetapi akhirnya dalam penulisan sejarah Pendeta Sumual menggunakan nama Air Mujizat.
Mahasiswa KKN Unima saat berada di lokasi Air Mujizat
Pada tahun 1986 ketika  Air Mujizat telah menjadi pembicaraan di kalangan jemaat Kristen maka misionaris dari Kanada, Amerika, Australia dan juga hamba-hamba tuhan yang berasal dari Jawa datang berkunjung di desa Lalumpe untuk melihat tempat di mana ada Air Mujizat. Mereka juga masing-masing mengambil air dari tempat itu yang mungkin dijadikan sebagai kenang-kenangan atau souvenir yang mereka isi dalam botol. Oleh karena semakin banyak orang yang tahu dan tertarik untuk mengunjungi tempat ini maka sebagian masyarakat Lalumpe ingin membuat tempat itu menjadi objek wisata dengan pertimbangan ekonomis. Hal ini mendapat protes dari masyarakat yang lain oleh karena menurut mereka mujizat Tuhan tidak seharusnya diperlakukan sebagai objek wisata apalagi membayar karcis masuk.
 Ketika kita melihat secara langsung tempat Air Mujizat ini mungkin sangatlah berkesan biasa saja. Tetapi dalam masyarakat Lalumpe - khususnya jemaat Pantekosta - ada makna lebih mendalam yang diwariskan kepada beberapa generasi di desa ini. Seakan-akan Aer Mujizat adalah salah satu identitas masyarakat ini yang merupakan bukti dari kepercayaan atau iman kristiani tua-tua mereka dahulu. Kekristenan memang telah menyatu dengan jiwa masyarakat di desa ini sehingga kebanyakan cerita dari masyarakat selalu berkaitan dengan Kekristenan.
Air mujizat merupakan tempat yang bersejarah dan menjadi tempat yang keramat di desa Lalumpe. Sehingga hampir seluruh masyarakat mengetahui akan cerita dan tempat Air Mujizat. Memang dulunya ada warga yang tidak percaya dengan cerita tentang tempat ini sehingga dia tidak menghargainya. Suatu waktu dia ingin menguji kekeramatan Air Mujizat dengan membawa sapi untuk diberi minum di tempat itu. Hari berikutnya sapinya mati dan dia mendapat bukti bahwa tempat itu bukanlah tempat biasa. Memang ketika sejarah yang diceritakan dari generasi ke generasi mendapat tanggapan yang tak acuh dan justru mengabaikannya. Generasi sekarang memang kurang menghargai nilai-nilai historis bangsanya sendiri. Tak jarang generasi muda sekarang jika ditanya tentang sejarah tempat mereka tinggal dijawab dengan kata ‘tidak tahu’. Rasionalitas barat telah memberi kerangka berpikir yang membuat kita menjadi ragu dan bahkan tidak percaya dengan diri kita sendiri. [ Sumber cerita di ambil dari blog http://iswadisual.blogspot.co.id/2011/07/air-mujizat-di-desa-lalumpe.html ]
Share:

Air Terjun Popontolen

suarasulutnews.co.id
Salah satu objek wisata air terjun yang rugi bila tidak dikunjungi oleh teman-teman Idblogpacker di Minahasa Selatan adalah Air Terjun Popontolen. Selain menawarkan keindahan yang begitu mempesona, lokasi menuju air terjun ini juga masih sangat alami. Berjarak kurang lebih 50 km dari Kota Manado, atau 15 km dari Amurang. Air terjun inidikelilingi pohon besar berusia ratusan tahun yang berjejer rapi.

Tak mengherankan, saking banyaknya pohon di kawasan air terjun, membuat lokasi begitu asri. Air yang jatuh dari ketinggian membentuk embun menempel pada dedaunan pepohonan. Umumnya wisatawan yang datang berkunjung di Air Terjun Popontolen tidak serta merta langsung turun berendam. Ini disebabkan air terjun bagitu dingin.

Walau begitu mempesona, ruas jalan masuk ke air terjun memang masih sangat memprihatinkan. Sehingga butuh sentuhan Pemkab. Menurut salah satu warga Joppy Tuela, bila ruas jalan masuk di dalam lokasi air terjun diperbaiki dan diaspal, dapat pastikan Air Terjun Popontolen akan menjadi salah satu lokasi wisata
andalan di Minsel. Dan bisa mendatangkan PAD.

#Cerita di ambil dari situs  http://manadopostonline.com/

Berikut videonya:

 
Share:

Menikmati Sunset di Pantai Alar

http://www.panoramio.com/photo/41921986
Pantai Alar yang berlokasi di Kelurahan Pondang, Kecamatan Amurang, merupakan destinasi wisata favorit di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Pantai Alar ini menawarkan wisata murah meriah bagi pelancong yang berkantong tipis.

Hamparan pasir hitam di pantai ini, dan terpaan angin sepoi-sepoi membuat pengunjung akan betah di tempat ini.  Indahnya sunset laut Manado bisa dinikmati dari pantai ini.

Jelang senja, air laut sering surut. Pada kesempatan ini pula masyarakat sering ke laut untuk berfoto atau pun sekadar main air. Bagi yang hobi mancing, bisa juga mancing di laut ini saat air surut.

Pemandangan warga yang memancing dan berenang sering terlihat di pantai ini. Yang ingin mandi, bisa juga. Hanya saja tak ada tempat untuk membersihkan diri dan ganti pakaian.

Untuk rutenya teman-teman Idblogpacker, dari Kota Manado, butuh waktu berkendara sekitar 90 menit untuk tiba ke pantai ini. Pantai Alar inj berada di pusat Kota Amurang, tepat di belakang kantor Bupati Minahasa Selatan.

Yang naik angkutan umum, bisa dari terminal Malalayang Manado, naik jurusan Manado - Amurang.  Setelah di pusat kota, turun di depan kantor bupati dan berjalan ke arah pantai. Jaraknya tak jauh, hanya sekitar 200 meter hingga ke pantai. [sumber cerita di ambil dari blog http://sepasangsepatuhidup.blogspot.co.id/ ]
Share:

Suasana hening di Bukit Doa Pinaling

http://mingthienhuekenhau.blogspot.co.id
Bukit Doa Pinaling berada kecamatan Amurang, sekitar lima kilometer dari Tumpaan, Manado. Wisata religi di wilayah ini tak kalah menariknya dengan Vatikan dan Israel, sebab dapat menikmati paskah dengan beragam acara seperti berdoa di Bukit Doa Pinangan dengan fasilitas gratis serta suasana yang teduh dan khusyuk mampu menambah arti mendalam perayaan Paskah.

Disebut bukit doa pinaling karena desa terdekat di lokasi ini adalah desa pinaling dengan kecamatan amurang dan kabupaten minahasa selatan, untuk ke bukit doa pinaling sangat gampang kok, dari manado kira-kira 1,5 jam perjalanan untuk tiba di desa pinaling dan setelah itu kita akan melewati beberapa tanjakan dan turunan untuk tiba di lokasi. Sesuai namanya bukit doa, di tempat ini sering di gunakan untuk tujuan wisata religi, selain terdapat bangunan gereja di tempat ini juga di sediakan tempat-tempat yang cukup luas bagi yang ingin mengadakan kebaktian ataupun hanya sekedar untuk tujuan wisata saja.

Yuk kawan Idblogpacker simak videonya di bawah ini:


Share:

Batu Dinding Kilometer tiga

wisatasulawesi.com
Batu Dinding Kilometer Tiga adalah sebuah tebing alami yang menjulang tinggi sekitar 90 meter. Batu Dinding Kilometer Tiga dikenal sebagai ‘Surga’-nya para pecinta olahraga ekstrim Panjat Tebing. Selain memiliki bentuk yang sangat unik, tingkat kesulitan jalur pemanjatan yang dimiliki Batu Dinding terbilang sulit. Bahkan beberapa olahragawan Panjat Tebing Nasional mengakui bahwa Batu Dinding Kilometer Tiga adalah tebing alami yang paling sulit di antara tebing-tebing se-Indonesia.
Obyek wisata

Batu Dinding Kilometer Tiga adalah tebing alami yang sangat unik. Bentuknya tidak seperti tebing-tebing alami pada umumnya. Batu Dinding (sebutan masyarakat setempat) memiliki permukaan seperti jajaran balok yang bersusun bertingkat terbalik. Seperti balok atas menindih balok bawahnya, sehingga semakin ke atas semakin menonjol permukaan tebing. Kemegahan Batu Dinding akan muncul bila Anda melihatnya dari kejauhan. Akan tetapi, Anda akan merasakan kekaguman yang lebih ketika melihat permukaannya dari dekat. Bagaimana susunan balok tersebut bisa menyatu dan tersusun sedemikian rupa.

Bagi Anda penyuka olahraga ekstrim Panjat Tebing, Batu Dinding akan memberikan sensasi yang cukup memicu adrenalin Anda. Pengalaman pemanjatan Anda akan bertambah sekaligus diuji di tebing ini. Susunan balok-baloknya yang terbalik cukup memeras otak serta tenaga Anda. Disamping itu, ada beberapa jalur pemanjatan yang sudah dibuat di Batu Dinding. Beberapa dari jalur pemanjatan tersebut juga terbilang unik, karena mempunyai nama dan ciri khas tersendiri. Berikut nama Jalur-jalur Pemanjatan beserta penjelasan singkatnya:

  •     Jalur Ofu. ‘Ofu’ adalah bahasa masyarakat setempat yang berarti ‘Lebah’. Dinamai Jalur Ofu karena jalur pemanjatanmelewati beberapa sarang lebah. Tentu saja sarang tersebut masih berpenghuni. Ektrim, bukan?
  •     Jalur Spider adalah jalur pemanjatan yang cukup panjang, dimana jalurnya tidak hanya satu tetapi banyak serta terputus-putus. Dinamai Jalur Laba-laba karena untuk menyelesaikan jalur ini, Anda harus melompat dari jalur satu ke jalur yang lain.
  •     Jalur Hang Dog. Pada Jalur Pemanjatan ini, Anda harus beberapa kali bergelantungan.
  •     Jalur Clim Or Swim (COS). Pada satu sisi, tebing berbatasan dengan aliran air. Jalur Pemanjatan COS ini menyilang dan melewati aliran air yang ada dibawah tebing tersebut. Sehingga ketika Anda terjatuh di tengah Jalur Pemanjatan, maka Anda akan langsung ‘berenang’.
  •     Jalur Teri. Dinamai Jalur Teri karena saat pembuatan jalur ini, para anggota tim pembuat jalur hanya makan dengan lauk Ikan Teri.
  •     Jalur Tragedi. Jalur Pemanjatan ini merupakan jalur peringatan pada sebuah tragedi, yang terjadi pada saat jalur ini dibuat. Dimana beberapa anggota tim tewas terseret luapan banjir Sungai Ranoyapo, yang letaknya berdekatan dengan lokasi tebing.
  •     Jalur Malaria juga merupakan jalur peringatan, karena saat jalur ini dibuat seluruh anggota team terserang penyakit Malaria. Pada saat yang sama, penyakit ini juga menyerang penduduk desa terdekat. Jalur malaria termasuk jalur tersulit di tebing ini, setelah Jalur Ratapan.
  •     Jalur Ratapan adalah Jalur Pemanjatan yang tersulit. Dinamai Jalur Ratapan karena ketika Anda menempuh jalur ini, keahlian pemanjatan Anda akan sangat teruji. Stamina, pikiran, dan tenaga akan terkuras habis untuk menaklukan jalur ini. Sehingga besar kemungkinan Anda akan mengeluh, atau ‘meratap’.

Sampai saat ini baru beberapa orang pemanjat yang mampu melalui Jalur Malaria dan Jalur Ratapan, karena memang kedua jalur itulah yang tersulit di Batu Dinding dan se-Indonesia.

Namun bagi Anda yang tidak menyukai olahraga ekstrim Panjat Tebing, jangan khawatir. Karena selain kemegahan tebing Batu Dinding Kilometer Tiga, pemandangan yang mengelilingi lokasi ini sangat asri dan sejuk. Tak jauh dari lokasi Batu Dinding, Anda bisa menemui kejernihan dan kesegaran aliran Sungai Ranoyapo. Sungai ini juga sering dipakai untuk olahraga air Arung Jeram.
Lokasi

Tebing yang indah nan megah ini terletak di Desa Kilometer 3 (Km3), Kecamatan Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Batu Dinding Kilo Tiga terletak 5 Km sebelah Barat Daya dari kota Amurang, dan sekitar 60 Km sebelah Barat Daya dari Kota Manado.
Akses

Lokasi Batu Dinding bisa dicapai dari Kota Amurang ataupun Kota Manado, dengan menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Sebagai informasi, dengan menggunakan angkutan umum lokasi tebing ini tidak bisa dicapai dengan satu kali perjalanan. Anda harus naik ojek dari titik penurunan angkutan kota, menuju ke Desa Kilometer Tiga. Setelah itu, anda juga akan berjalan kaki sebentar untuk mencapai tebing ini.
Harga Tiket

Karena masih dalam tahap rencana pengembangan, Anda yang ingin mengunjungi Batu Dinding tidak akan dipungut biaya. Disarankan agar Anda memberikan sumbangan sukarela pada tempat yang disediakan, karena kebersihan dan perawatan tebing ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat.


Fasilitas penginapan dan rumah makan hanya ada di kota yang terdekat dengan Batu Dinding, yaitu Kota Amurang dan Manado. Beberapa hotel dekat Batu Dinding Kilometer Tiga yang direkomendasikan seperti Minahasa Lagoon Hotel dan Manguni Terrace Resort. Bila Anda berminat mencoba memanjat tebing Batu Dinding, disarankan agar Anda membawa peralatan panjat sendiri. Untuk keamanan dan kenyamanan pemanjatan, disarankan agar Anda menghubungi kelompok pecinta alam ‘Cliff Hanger Amurang’ atau Forum Komunikasi Pecinta Alam (FKPA) Sulawesi Utara. [ sumber cerita di ambil dari situs http://www.gocelebes.com/ ]

Penasaran dengan Batu dinding kilometer tiga ini, berikut Idblogpacker sertakan videonya:


Share:

Pantai Moinit

manado.tribunnews.com
Pantai Moinit, 1,5 jam dari Kota Manado, dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum (darat). Ditempat ini terdapat, mata air panas yang keluar dari celah karang, yang konon bisa mengobati berbagai macam penyakit seperti gatal-gatal, reumatik, encok dan lail-lain.

Kountur tempat keluarnya air panas agak sedikit berbeda karena banyak didominasi karang besar yang berwarna coklat keemasan, sedangkan untuk tempat berenang lokasinya tidak berkarang ataupun berbatu.

Pantai moinit ini memiliki panorama yang sangat indah. pantai yang masih perawan ini sangat layak disarankan untuk dikunjungi dikala hari libur. semburat senja yang menguning di kala sore hari menambah suasana manjadi hangat. Dengan Luas 36 hektar, Pantai Moinit ini sering di jadikan pilihan oleh berbagai komunitas untuk kegiatan seperti Ibadah, perkemahan atau sekedar berwisata pantai bersama keluarga. Anda juga tidak perlu khawatir soal parkiran, karena lokasi pantai ini cukup luas dan aman untuk kendaraan anda. [sumber cerita di ambil dari situs sultpos.com dan http://blogminahasaselatan.blogspot.co.id/]



Berikut Idblogpacker sertakan videonya:

Share:

Keindahan Taman Laut Nasional Bunaken

knowledgeandhistory.blogspot.com
Taman Laut Nasional Bunaken mempunyai area dengan luas 75.265 ha. Terdapat 5 pulau yang termasuk dalam taman nasional ini yaitu Pulau Naen, Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua, Pulau Siladen, dan Pulau Mantehage beserta anak pulau yang di sekelilingnya. Dan jumlah penduduk yang ada di kelima pulau tersebut sekitar 21.000 orang.

Secara geografis Pulau Bunaken termasuk dalam wilayah perairan “Segi Tiga Emas“. Lebih dari sekitar 3000-an spesies ikan berada di Bunaken. Wilayah “Segi Tiga Emas” adalah jalur perairan laut yang menghubungkan laut Filipina, laut Papua, dan laut Indonesia. Karena kekayaan alam yang berada di Bunaken, organisasi nasional dan internasional non pemerintah saling bekerja sama dalam menjalankan konservasi terumbu karang dan mangrove.

Pemerintah Kota Manado mempunyai gagasan menjadikan Bunaken sebagai obyek wisata bahari dan wisata edukasi, karena pemerintah setempat melihat aktivitas konservasi alam laut di wilayah ini. Maka dari itu kawasan Pulau Bunaken pada 1991 silam, Menteri Kelautan meresmikannya sebagai Taman Laut Nasional Bunaken.
Obyek Wisata

Pada saat wisatawan berkunjung ke Manado, Sulawesi Utara, mereka tidak akan lupa untuk berkunjung ke Taman Laut Nasional Bunaken. Karena Bunaken merupakan obyek wisata yang paling populer.

Bunaken memiliki luas kurang lebih sekitar  8 km² yang terletak di Teluk Manado. Di sekeliling Bunaken, ada taman laut yang juga bagian Taman Nasional Kelautan Manado Tua. Bunaken juga merupakan salah satu taman laut yang mempunyai biodiversitas laut tertinggi dunia. Oleh karena itu banyak para wisatawan yang datang berkunjung untuk melakukan aktivitas menyelam di kawasan Bunaken. Meski luas area mencapai 75.265 ha, lokasi menyelam sangat terbatas, hanya berada di sekitar pantai yang mengitari kelima pulau yang berada di kawasan Taman Laut Nasional Bunaken.

www.triptrus.com

Di Bunaken terdapat 40 lokasi penyelaman yang memiliki beraneka ragam terumbu karang dan ikan laut tropis yang indah. Wisatawan yang melakukan penyelaman di wilayah Bunaken akan disuguhi pemandangan 150 spesies ikan dari sekitar 58 genus ikan dan terumbu karang.

Taman Laut Nasional Bunaken mempunyai 20 dive spot / titik penyelaman dengan berbagai kedalaman yang bervariasi. Dari 20 dive spot, 12 dive spot berada di Pulau Bunaken dan merupakan titik penyelaman yang paling sering dikunjungi oleh penyelam-penyelam baik lokal maupun mancanegara.

Titik penyelaman Bunaken berderet dari tenggara hingga barat laut. Di kawasan ini terdapat dinding karang berukuran raksasa berbentuk vertikal dan melengkung. Dinding ini merupakan sumber makanan bagi ikan-ikan dan penghuni laut lainnya.
Lokasi

Bunaken terletak di perairan laut Pulau Sulawesi. Sebagian Taman Laut Nasional Bunaken berada di utara Teluk Manado dan merupakan bagian administrasi Kota Manado, Sulawesi Utara.
Akses

Untuk mencapai Taman Laut Nasional Bunaken, wisatawan dapat menggunakan transportasi yang sudah tersedia yaitu perahu motor dari pantai Teluk Manado.
Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk ke Taman Laut Nasional Bunaken yaitu Rp. 50.000,-/orang untuk sekali masuk. Dan Rp. 150.000,-/orang yang berlaku 1 tahun. Jika Anda membeli tiket yang berlaku untuk 1 tahun, Anda akan diberi seperti lencana yang terbuat dari plastik sebagai pengganti tiket.
*harga tiket dapat berubah lho kawan sesuai dengan info terbaru sumber di atas idblogpacker dapatkan dari situs http://www.gocelebes.com/

Video:
 
Share: