🎁 Spesial buat pengunjung Idblogpacker, akan ada yang spesial dalam 5 detik...

Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan

Curug Perawan, potensi wisata di Kulon Progo

Menelusuri potensi wisata daerah sendiri memang punya kesan tersendiri ada perasaan bangga sekaligus kagum, Selain Puncak Suroloyo, terdapat pula sebuah air terjun atau biasa disebut curug perawan oleh masyarakat sekitar, dengan ketinggian sekitar 80-100an meter banyak berita yang beredar bahwa tempat ini jaman dulu menjadi tempat eksekusi seseorang yang di lemparkan dari atas hingga nyangkut di tengah dan akhirnya jatuh sampai dasar dan meninggal dunia, menyusuri tempat ini sendirian ada sebuah pengalaman yang sedikit mendebarkan bukan tentang ceritanya yang horor tetapi berpapasan dengan segerombolan monyet yang masih liar dan bisa saja mengejar sewaktu-waktu, teriak pun mungkin tidak ada orang yang mendengar kecuali segera bergegas meninggalkannya, kebetulan lama ga turun hujan jadi debit air yang mengalir kemarin hanya sedikit, yang pasti semoga kedepan bisa di tata dan dikelola dengan baik oleh masyarakat ataupun pemerintah sehingga bisa menjadi tempat wisata yang bagus dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Tetapi ingat jika ingin kesana tetaplah menjaga sopan santun dengan warga sekitar, dan jangan lupa membuang saampah pada tempatnya agar tetap bersih dan bisa dinikmati oleh orang lain.






Share:

Watu Angklik, Keunikan batu berdiri di tepi jurang

Sebuah batu yang benar-benar berdiri di atas bukit dengan dikelilingi jurang setinggi hampir ratusan meter, sama seperti watu kendil yang di dekat borobudur, batu ini hanya di tompang dengan batu kecil, berdiri dengan kemiringan 80 derajat dan hanya berdiri di perbukaan tanah tepat di atas bukit. Katanya batu ini pernah jatuh ke bawah ke perkebunan warga tetapi setelah di lihat kembali sudah kembali berdiri di atas, apapun itu banyak keunikan yang di beri oleh sang pencipta yang patut kita syukuri saat ini..
Itulah sedikit keunikan di alam perbukitan menoreh yang biasa oleh masyarakat di sebut Watu Angklik yang belum banyak terjamah oleh para pengunjung..
Karena medan yang curam, silahkan berhati-hati jika mau kesana dan tetaplah ramah kepada penduduk sekitar dan jangan lupa untuk tidak membuang sampah atau merusak perkebunan warga.

Share:

Pantai Baron, Pantai yang indah di apit oleh 2 bukit

Lanjut yuk ceritanya..

Kemarin habis mengulas pantai ngobaran, sekarang giliran pantai baron yang akan admin ulas disini. Perlu kita ketahui dulu bahwa Lokasi Pantai Baron  ini terletak di Desa Kamadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, merupakan pintu gerbang masuk kawasan obyek wisata pantai Gunungkidul yang lain seperti: Pantai Kukup, Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Krakal, Pantai Slili dan Ngandong, Pantai Sundak (Tujuh Pantai Dalam Satu Kawasan) dan biaya masuknya murah lho...  Pantai Baron adalah pantai yang dikelilingi bukit-bukit kapur yang di atasnya terdapat jalan setapak dimana wisatawan dapat menikmati keindahan laut yang luas dan khas bisa juga sebagai tempat untuk berkemah, dan di sebelah barat, terdapat muara air sungai bawah tanah (air tawar) sehingga ada suatu tempat pertemuan antara air laut dan air tawar. Koordinatnya terletak pada S8°7'51" E110°32'52"

Pemandangan disini memang sangat menarik, banyak pengunjung yang berenang di pantainya walaupun harus dalam batas yang di tentukan juga..

Sebenarnya pantai ini tidak masuk dalam rencana kali ini tapi setelah melewati dan waktunya masih memungkinkan, sayang khan kalau dilewati begitu saja.
Kalau mau kesini, saya sertakan rutenya saja ya silahkan di cari sendiri.. :D

Rute Pantai Baron dari Jogja :
Jogja - Piyungan - Patuk - Sambipitu - Pertigaan timur Lanud TNI Gading ke kanan - Playen - Paliyan - Saptosari - Tanjungsari - Pantai Baron

Rute 2 :
Jogja - Imogiri - Panggang - Saptosari - Tanjungsari - Pantai Baron

Rute 3:
Jogja - Piyungan - Patuk - Sambipitu - Lanud TNI Gading - Siyono - Pertigaan timur Bundaran Tugu BPD ke kanan - Jl Kyai Legi - Ikuti terus jalan Lingkar Selatan sampai menemui perempatan belok ke kanan arah Jalan Baron - Jalan Baron - Tanjungsari - Pos Retribusi Kawasan Pantai Gunungkidul - Pantai Baron

Rute 4:
Jogja - Piyungan - Patuk - Sambipitu - Lanud TNI Gading - Siyono - Bundaran Tugu BPD lurus ke timur  - Wonosari - Jalan Baron - Tanjungsari - Pos Retribusi Kawasan Pantai Gunungkidul - Pantai Baron

Mudah kok rutenya, di penunjuk jalan sangat mudah untuk di ikuti dan kemungkinan kecil untuk tersesat.






Share:

Pesona Multikulturalisme Pantai Ngobaran

Ngobaran merupakan pantai yang cukup eksotik kalau menurut saya, maka dari itu ini menjadi tujuan pertama saya mengunjungi pantai ngobaran. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1 jam dari Gua Maria Tritis, pantainya sangat eksotis dimana kita bisa melihat hamparan rumput laut pada saat air sedang surut dan puluhan jenis binatang laut juga bisa terlihat di sela-sela karang, mulai dari landak laut, bintang laut, hingga golongan kerang-kerangan.

Satu hal yang menarik di pantai ini adalah adanya tempat ibadah untuk empat agama atau kepercayaan berdiri berdekatan. Apakah itu bentuk multikulturalisme? Siapa tahu.

Bangunan yang paling jelas terlihat adalah tempat ibadah semacam pura dengan patung-patung dewa berwarna putih. Tempat peribadatan itu didirikan tahun 2003 untuk memperingati kehadiran Brawijaya V, salah satu keturunan raja Majapahit, di Ngobaran. Orang yang beribadah di tempat ini adalah penganut kepercayaan Kejawan (bukan Kejawen). Nama "Kejawan" menurut cerita berasal dari nama salah satu putra Brawijaya V, yaitu Bondhan Kejawan. Pembangun tempat peribadatan ini mengaku sebagai keturunan Brawijaya V dan menunjuk salah satu warga untuk menjaga tempat ini.

Share:

Gua Maria Tritis Gunung Kidul

Perjalanan pertama menyusuri kawasan gunung kidul adalah menuju ke Gua Maria Tritis untuk berdoa terlebih dahulu agar perjalanannya di beri kelancaran. Gua Maria Tritis berada di Dusun Bulu, bagian dari Desa Giring Kec. Paliyan, Kab. Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta. Untuk sampai ke gua ini, bisa menempuh jalur masuk Kabupaten Gunungkidul, melewati Jalan Wonosari, Piyungan, dan Bukit Patuk. Dengan berlokasi di tengah ladang perbukitan kapur, Gua Maria Tritis tumbuh menjadi oase yang menyejukkan para peziarah yang haus akan ketenangan dan kedamaian jiwa. Keren lho..

Pertama saya masuk dari jalan raya agak ragu-ragu karena jalannya memang sepi, tetapi dengan keyakinan semakin turun dan masuk ke dalam perbukitan kapur saya semakin yakin kalau ini adalah jalan menuju ke gua. Sesampainya di bawah saya melihat ada bangunan, dan ada seseorang disana, saya bertanya tentang letak Gua Marianya dan ternyata saya sudah sampai, letaknya ada di balik bangunan tersebut. Sampai di sana hanya kami berdua yang berziarah disana karena memang pas hari biasa dan ada juga pekerja yang sedang merenovasi bangunan di dalam gua.



Suara tetes air yang jatuh di bak penampungan memecah kesunyian saat kami berdoa. Aura damai dan meditatif yang tercipta mengajak kami untuk manekung bertemu dengan Sang Pencipta dalam relasi yang sangat personal. Deretan kursi tertata rapi di setiap tempat landai di antara bebatuan karang. Di beberapa lokasi, terdapat penampungan air yang menyatu dengan lantai gua. Air yang sejuk itu berasa dari tetesan stalagtit atau sulur-sulur yang menghiasi bagian atas gua.

Konon, dulu Gua Tritis merupakan tempat yang angker. Gua ini menjadi tempat favorit para pertapa untuk mencari ilmu kanuragan. Menurut cerita-cerita yang beredar di tengah masyarakat, ada beberapa pangeran Kerajaan Mataram pernah bertapa di tempat ini, bahkan seorang pangeran mendapatkan wahyu Keraton Mataram. Karena keangkeran inilah, gua ini nyaris tidak terjamah oleh kebanyakan orang. Citra angker ini mulai berubah sedikit demi sedikit setelah ditemukan.



Menurut sejarah berdirinya menjadi tempat ini menjadi sebuah Gua Maria yaitu Pada tahun 1975 Romo Hardjosudarmo, SJ bertugas di Paroki Wonosari. Beliau juga membina para murid SD Sanjaya di Dusun Pengos, Kelurahan Giring, Kecamatan Paliyan. Pada tanggal 25 Desember1975 itu beliau bersama para murid SD Sanjaya merayakan misa natal di gedung SD Sanjaya karena waktu itu di lingkungan SD Sanjaya belum mempunyai kapel. Setiap akan diadakan Misa Natal, Romo membuat “gua” dari kertas. Melihat hal itu ada seorang murid berkata kepada Romo,”Romo, tidak usah membuat gua dari kertas, karena di tempat saya ada gua asli.” Lalu Romo itu bertanya,”gua asli bagaimana ?” Murid itu hanya menjawab,”Gunung itu growong (berlobang besar).”


Maka pada suatu hari Romo diantar oleh muridnya itu ke gunung growong itu. Sampai di dalam gua Romo kagum dengan keindahan alam yang baru pertama kali dijumpainya, sehingga Romo berniat menjadikan gua tersebut sebagai tempat berdoa bagi umat katolik.

Tak lama setelah peristiwa itu Romo menemui Bpk. R. Radio Sutirto, Kepala Desa Giring. Tujuannya adalah untuk meminta izin agar Gua Tritis boleh dipergunakan untuk berdoa bagi umat Katolik. “Pak, bagaimana kalau Gua Tritis itu saya jadikan tempat sembayangan bagi umat katolik ?” Tanpa menunggu keesokan harinya Bapak kepala desa itu menyetujui permintaan Romo Hardjosudarmo, SJ itu. Berkat dukungan dan kerja sama masyarakat dusun bulu jalan menuju ke gua dalam waktu kurang lebih satu bulan sudah dapat dilewati walaupun waktu itu keadaanya belumlah sempurna seperti sekarang. Dan pada tahun 1979 Gua Maria Tritis diresmikan oleh Romo Lamers, SJ dengan memasang Patung Bunda Maria. Sejak saat itu tempat itu dinamai Gua Maria Tritis.









Setelah puas menikmati keindahannya dan berfoto2 ria, saya pun berpamitan dengan orang yang sedang merenovasi gua tersebut untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Itulah sekilas tentang Gua Maria Tritis Gunung Kidul sebuah karya Tuhan yang maha agung.
Share:

Rute Menuju Kawasan Wisata Gunung Kidul, Keliling 9 wisata gunung kidul dalam 2 hari.

Liburan imlek, wah kesempatan nih buat liburan dan bersenang-senang. :D Kebetulan liburan di mulai dari hari rabu sebelum hari raya imlek jadi bisa menikmati libur 2 hari. Klo bagi seorang pekerja libur 2 hari itu sudah cukup wah.. Apa lagi klo bisa libur berbulan-bulan tambah sip itu klo yg jd bos nenekmu... wkwkwkwk

Sebelum libur datang rencana kali ini pengennya ke daerah gunung kidul kalau dari jogja sekitar 2 jam'an, katanya bagus tempat2nya.. Dari situlah saya mulai tertarik untuk berlibur disana..

Mulailah satu minggu sebelum liburan saya persiapkan dulu, perkiraan budget, rencana-rencana, dan jalur mana saja yang harus di lalui. Untuk melihat kondisi tempat2nya saya mulai browsing dari internet, dan pastinya menggunakan bantuan google earth untuk melihat jalur2nya dan letak tempat wisatanya.

Pertama saya membuat jalur perkiraan tempat2 mana yang harus dikunjungi.


Setelah membuat perkiraan jalur2nya selanjutnya membuat rencana  jadwal dan jam yang harus di kunjungi.

Start  Solo : 09.00
Solo – Wonosari : 2 Jam
Wonosari – Desa Kemadang : 1 Jam
14.00 Desa Kemadang – Ngobaran : 1 Jam
15.00 – 16.00- Ngobaran
17.00 Bermalam di Pantai Sundak
04.00-07.00 Pantai Sundak,
07.00 – 08.00 Pantai Kukup,
08.15 – 09.15 Pantai Ndrini,
09.15 – 10.15 Pantai Krakal
Pantai Krakal – Pantai Timang 1 Jam
11.30-12.30 Pantai Timang
13.00 – 14.00 Pantai Jogan
15.00 Kembali – 19.30 Sampai di Solo

Karena waktu hanya 2 hari dan itu pun harus di batasi waktu. Setelah semuanya di rencanakan kebetulan juga tidak perlu menyewa sepeda motor karena itungannya sudah dapat pinjaman di wonosari jadi tidak perlu jauh2 mengendarai sepeda motor.

Tiba waktunya besok sudah libur, saya pun berangkat dari surabaya pukul 23.00 menuju ke terminal solo karena menunggu seseorang disana. Berangkat dari terminal solo ke wonosari 08.30 yang ternyata maju setengah jam dari jadwal, ternyata setelah perjalanan dari solo terus oper bis jurusan wonosari di bypass jogja-wonosari, sesampainya di wonosari pukul 13.15 menempuh perjalanan 5 jam. Dari wonosari saya pun mengambil sepeda motor dan melanjutkan perjalanan. Rencana pertama berubah yaitu mampir dulu ke Gua Maria Tritis paling tidak berdoa dulu sebelum melanjutkan perjalanan.. :D

Gua Maria Tritis

Setelah dari Gua Maria Tritis sekitar pukul 14.00 saya melanjutkan perjalanan ke pantai ngobaran karena jaraknya sekitar 14 km perjalanan di tempuh sekitar 45 menit, Sampai di pantai ngobaran saya disuguhkan pemandangan yang luar biasa, pastinya disana pertama adalah foto-foto menghabiskan memori..

Pemandangan dari atas pantai ngobaran
Sekitar pukul 16.00 saya melanjutkan perjalanan menuju pantai baron karena sayang kalau di lewati.. pemandangan pun tidak kalah menarik meskipun tidak terlalu luas tetapi pengunjungnya lumayan banyak.

Pantai Baron
Setelah puas berfoto2 di pantai baron, perjalanan pun di lanjutkan ke pantai kukup, ternyata setelah berada di sekitar pantai, pantai ini bukanlah tujuan sesuai dengan jadwal. Di pantai kukup ini tetap saya sempatkan untuk sekedar berfoto-foto dan melihat pemandangan di sekitaran pantai.

Di Sekitar pantai Kukup

Karena matahari sudah mau terbenam,  rencananya selanjutnya adalah menikmati sunset di pantai sundak, dan ternyata kali ini pas sesuai dengan yang ada pada jadwal. Disini pun saya menikmati pemandangan yang luar biasa suasana matahari terbenam di sore hari sembari melihat di sekeliling suasana yang indah.

Menunggu sang surya tenggelam di balik bukit.

Karena suasana sudah mulai gelap, saya pun memutuskan untuk tidak menginap di pantai sundak karena suasana yang mulai sepi saya pun menuju ke pantai krakal untuk mencoba mencari penginapan disana sekalian pagi harinya bisa langsung melihat sunrise di pantai krakal. Pukul 06.00 saya melihat keluar dan ternyata pagi itu hujan mengguyur kawasan gunung kidul jadi matahari masih tertutup mendung dan di pastikan gagal untuk melihat sunrise, tetapi pemandangan pagi hari disana sangat indah hingga pukul 07.30 saya pun mulai berkemas untuk melanjutkan perjalanan.


Pemandangan karang berlumut di pantai krakal sebelum air laut pasang.

Perjalanan selanjutnya menuju pantai drini yang kurang lebih 4 km dari pantai krakal di sana lumayan lama karena bertemu dengan seorang teman lama. Disana pengunjung bisa menyebrang ke pulau drini dengan menggunakan tali tetapi pastinya harus basah kuyup ataupun bisa naik ke pulau kodok yang di seberangnya juga terdapat pantai kodok.
Pulau drini yang terlihat dari kejauhan.
Setelah puas menikmati pantai drini, sekitar pukul 09.00 saya melanjutkan perjalanan ke pantai timang yang perjalanannya cukup jauh sekitar 18 km, perjalanan pertama jalan cukup mulus hingga masuk ke jalur arah pantai pertama masih beraspal, setelah masuk lebih dalam, perjalanan lumayan sulit dan menguras tenaga karena hanya jalanan berbatu dan lumayan licin saat turun karena habis hujan.

Gondola penyeberangan tradisional.

Perjalanan sulit tersebut setimpa dengan pemandangan yang disuguhkan di pantainya, disana terdapat sebuah katrol atau yang biasa di sebut gondola dan pantainya pun sepi terasa seperti pantai pribadi. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 saya mulai bergegas kembali menuju ke perjalanan terakhir yaitu pantai jogan.

Perjalanan tersulit adalah jalur menuju pantai timang yang sekitar 3 km adalah jalan berbatu yang terjal. Setengah jam perjalanan akhirnya saya sampai di kawasan wisata pantai jogan, siung, dsb. tetapi saya hanya menuju ke pantai jogan sesuai dengan rencana, karena pemandangannya bagus, pantainya juga unik karena terdapat air terjun dari sungai yang berada di atasnya.

Air Terjun Pantai Jogan
Puas menikmati pemandangan disana, sekitar pukul 12.00 saya melanjutkan perjalanan untuk kembali ke wonosari karena melihat perjalan dari wonosari ke solo sekitar 5 jam saat berangkat td jd waktu yang sebelumnya sampai pukul 15.00 dari wonosari harus di majukan menjadi pukul 13.00 di sana saya berpisah dengan teman yang tadinya bertemu di pantai drigi karena masih ingin menikmati pemandangan di pantai siung jadi saya memutuskan untuk kembali. Sesampainya di wonosari sekitar pukul 13.00 dan saya pun mengembalikan sepeda motor. sekitar pukul 14.00 saya pun melanjutkan perjalanan pulang menuju ke terminal solo, sesampainya di terminal solo waktu menunjukkan pukul 19.00. Dan pukul 19.00 saya kembali menuju ke surabaya dengan menumpang bis ekonomi hingga sampai di surabaya pukul 02.00 dan pagi harinya kembali melakukan aktifitas bekerja.

Gimana sudah ada gambaran untuk berwisata di gunung kidul??? Keren lho kalau mau di kunjungi semua mungkin harus perlu waktu sekitar 1 minggu.. hehehehe

Yuk mampir di ulasan-ulasan di bawah ini.




Sekian terima kasih.




Share:

Menjelajah telaga warna Dieng, Jawa Tengah

Telaga Warna masuk wilayah Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo Jawa-tengah. Telaga warna Dieng adalah telaga paling sering dikunjungi oleh para wisatawan. selain letaknya yang strategis dan dekat dengan obyek-obyek wisata lain.

Telaga ini juga memiliki keunikan tersendiri yaitu warna permukaan telaganya yang kadang berubah sewaktu-waktu dengan dominasi warna hijau kebiruan serta putih yang merupakan refleksi endapan belerang didalamnya.

Selain keindahan Telaganya yang natural dan eksotis, saat berkeliling menyusuri jalan setapak yang mengelilingi Telaga warna, anda juga akan menjumpai Telaga lain yang letaknya tepat di Samping Telaga warna, yaitu Telaga Pengilon. Goa-goa alam yang diselimuti aroma mistis juga bisa anda ditemui di sekeliling Telaga Warna seperti Goa Semar, Goa Sumur, Goa Jaran dan lain-lain.

Telaga-telaga lainnya yang bisa ditemui di sekitaran Dieng Diantaranya Telaga Cebong, Telaga Merdada dan Telaga Menjer. Setiap telaga memiliki keunikan dan daya tarik yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Share:

Keajaiban alam Watu Kendil

Watu Kendil terletak di desa wisata Candirejo, sekitar 3 km jaraknya dari kawasan candi Borobudur yang tersohor itu. Perjalanan menuju Watu Kendil ini belum begitu mulus. Jalannya masih sempit dan sangat tidak disarankan memakai mobil pendek seperti sedan.

Karena tempat ini belum terpublikasi dengan baik, maka maklum lah jika aksesibilitasnya belum oke. Yang jelas, bahkan penduduk lokal Magelang di luar desa dan kecamatan tempat Watu Kendil ini berada belum tentu pernah kemari atau bahkan mendengar namanya. Watu Kendil memang masih sepi dari pengunjung.

Tempatnya yang cukup jauh dari pusat kota membuat orang cukup malas bertandang kemari. Herannya, malah banyak turis luar negeri yang mampir kesini daripada turis lokal. Bule Perancis dan Belanda sering minta diantar menelusuri salah satu keajaiban alam yang belum tersibak ini.

Secara fisik, Watu Kendil ini merupakan batu yang sangat besar berada di atas bukit yang curam dengan dasar yang tipis untuk mengganjal agar Watu Kendil ini tidak jatuh. Besarnya mungkin bisa diumpamakan sebesar rumah tinggal keluarga dengan tinggi sekita tiga kali tinggi badan orang dewasa rata-rata di Indonesia.

Bentuknya segi empat kasar. Kalau menurut cerita orang-orang, bentuknya diumpamakan seperti kendil alias tempat masak atau periuk orang jaman dahulu. Konon, Watu Kendil ini adalah tempat memasak bagi pekerja yang membangun candi Borobudur. Berat batu tersebut sudah pasti berton-ton hitungannya.

Dan, uniknya adalah bentuknya yang mengecil pada bagian bawahnya namun tetap kokoh batu ini berttengger di puncak bukit. Letaknya yang berada di pinggir jurang semakin membuat ngeri siapa saja yang memandang, namun batu yang konon terbentuk karena proses mistis ini tidak pernah berubah bentuk maupun derajat kemiringannya meskipun sudah seringkali terkena guncangan karena gempa maupun gunung meletus.

Beberapa mitos tersiar atas tempat yang terletak di kecamatan Borobudur ini. Selain sempat menjadi tempat memasak untuk pekerja yang membangun candi Borobudur, tempat ini juga digosipkan memiliki penunggu yakni seekor ular raksasa yang merupakan jelmaan dari seorang pertapa yang sukses mendapatkan ilmu dari sini.

Penduduk lokal percaya jika batu besar ini digulingkan, maka akan mengucur air dari tempat semula Watu Kendil ini berada dan akan menutupi lembah besar di bawahnya. Selain itu, ada juga yang mempercayai bahwa Watu Kendil ini memiliki keterkaitan mistis dengan candi Borobudur.

Hal ini diperkuat dengan adanya kemiripan candi Borobudur yang dapat berdiri kokoh tanpa perekat seperti halnya Watu Kendil ini tidak memiliki perekat apapun namun tetap berdiri tegak meskipun dasarnya tipis dan bagian bawah dari batu ini lebih kecil daripada bagian atasnya.

Keterkaitan ini juga semakin kuat dengan hal mistis karena Watu Kendil ini seringkali dijadikan tempat untuk bertapa para pencari ilmu. Menurut beberapa sumber, tempat ini tepat untuk bertapa sebab berada di bukit yang tinggi dan dekat dengan alam.

Jika anda berjalan sekitar du puluh lima meter dari lokasi Watu Kendil ini, anda akan menjumpai sebuah rumah yang menurut warga setempat adalah juru kunci daripada Watu Kendil ini. Menurut juru kunci tersebut, bukit Menoreh, Watu Kendil dan candi Borobudur merupakan bentuk keseimbangan antara lembah dan isinya, bangunan keagamaan dan bukit.

Lembah yang ada tepat di bawah Watu Kendil ini dipercayai dahulunya adalah sebuah danau yang kemudian kering. Kemudian, dengan adanya Watu Kendil yang menyeimbangkan alam secara landscape ini membuat tempat di bawahnya menjadi berbentuk lembah.

Jika keseimbangannya hilang dan Watu Kendil berguling ke bawah, maka air akan kembali mengisi lembah dan kembali menjadi danau sperti kodratnya semula. Itulah sebabnya pengunjung harus sangat berhati-hati dengan Watu Kendil yang membawa simbol sebagai penyeimbang alam.












Jalan masuk menuju watu kendil






Keren khan?? cobalah kalau ke magelang mampir kesini..
Share: