Tarian Sufi Iringi Pemberangkatan Jenazah Mgr. Johannes Pujasumarta

Rangkaian ibadat dan doa di Gereja Katedral Semarang menandai upacara penghormatan terakhir untuk mendiang Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Johannes Pujasumarta yang wafat pada hari Selasa (10/11). Menariknya, sesaat menjelang pemberangkatan jenazah Mgr. Johannes dari Gereja Katedral Semarang menuju Seminari Tinggi St. Paulus Yogyakarta, Kiai Budi Hardjana, pengasuh Pondok Pesantren Al Islah Meteseh, Tembalang mempersembahkan tarian sufi dengan iringan lagu “Ndherek Dewi Maria” ” yang dinyanyikan oleh seluruh umat yang hadir.

Menurut Romo Aloysius Budi Purnomo Pr, tarian sufi itu dipersembahkannya sebagai tanda persahabatannya dengan mendiang Uskup Agung Semarang itu yang setiap Hari Raya Idul FItri bersilaturahmi ke pondoknya. “Dan Kiai Budi pun dengan piawai dan khidmat maju dan berdiri di samping peti jenazah, memberi hormat lalu mulai menari selama lagu dinyanyikan,” ujar Romo Aloysius Budi Purnomo Pr dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/11).

Seperti diketahui, Uskup Agung Semarang ini wafat setelah mendapat perawatan intensif selama kurang lebih dua bulan di Rumah Sakit Elisabeth Semarang.

Sejak pukul setengah lima pagi, umat sudah berdatangan ke Gereja Katedral Semarang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Mgr. Puja.

Pada pukul 05.30 WIB, Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh sembilan imam, yang dipimpin oleh Romo Kurnia Pr, salah satu dari empat romo yang berkarya di Katedral Semarang sebagai selebran utama. Ribuan umat hadir dalam Perayaan Ekaristi ini dan sesudah Perayaan Ekaristi, umat masih terus memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan Uskup yang mereka kasihi.

Pada pukul 08.00 WIB, diselenggarakan ibadat pemberangkatan jenazah yang akan dibawa menuju Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta dan akan dimakamkan di makam para Imam Praja (Diosesan) Keuskupan Agung Semarang yang berada di kompleks Seminari Tinggi tersebut pada hari Jumat (13/11).”Ibadat pemberangkatan dipimpin oleh Romo Riyanto Pr,” ujar Romo Budi.

Sesaat menjelang pemberangkatan jenazah Mgr. Johannes Pujasumarta, Romo Budi mempersilahkan Kiai Budi menghadirkan tarian sufi dengan iringan lagu “Ndherek Dewi Maria”.

Kiai Budi sendiri sengaja hadir dalam upacara itu setelah ditelpon oleh Romo Aloys Budi Purnomo Pr yang menjadi sahabatnya dan bertugas sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang bahwa Mgr. Puja wafat.

Saat ditelpon, Kiai Budi masih berada di Tuban. Kiai yang mahir menari sufi dan banyak santri penari sufinya itu langsung pulang demi persahabatannya dengan Mgr. Puja selama ini” Bapak Uskup Agung Semarang itu setiap Hari Raya Idul FItri bersilaturahmi ke pondoknya. Bahkan di saat sedang berjuang dengan sakit yang dideritanya, Mgr. Pujasumarta tetap bersilaturahmi ke Ponpen Al Islah pada Hari Raya Idul Fitri 2015 yang lalu,” kata Romo Budi.

Sesudah Kiai Budi selesai menari sufi, jenazah langsung diberangkatkan menuju Yogyakarta diiringi dentang lonceng Katedral dan isak tangis umat serta imam yang masih dirundung duka atas meninggalnya Uskup yang dikasihi umat itu. Perjalanan menuju Yogya ditempuh melalui jalan biasa, tidak melalui jalan tol atau pun jalan lingkar, mengingat umat di Ambarawa dan Bedono juga siap menyambut jenazah Mgr. Johannes yang melintasi daerah itu.

Mgr. Johannes Pujasumarta merupakan Uskup, Gembala dan Pemimpin yang mengumat dan merakyat. Itulah yang selama ini ditangkap banyak orang, termasuk Romo Budi yang sempat beberapa kali berkunjung dan berdialog dengan beliau selama dirawat di Ruang Anna 402 Rumah Sakit Elisabeth Semarang. “Beliau sangat kebapakan dan baik hati dalam kesederhanaan dan kecintaan kepada umatnya. Bahkan beliau menghayati sakitnya sebagai bagian dari kecintaan kepada umat dan masyarakat. Itulah sebabnya, beliau memilih dirawat dengan cara seperti umat dan meninggal juga seperti umat, dengan tidak mau dirawat di ICU apalagi berobat ke luar negeri,” pungkas Romo Budi. (Beritamoneter.com)

Comments