🎁 Spesial buat pengunjung Idblogpacker, akan ada yang spesial dalam 5 detik...

Gua Batu Ejayya

serbaserbipordabantaeng.blogspot.com
Obyek wisata ini terletak di Kelurahan Bontojawa Kecamatan Bissappu, berjarak sekitar 16 km dari kita Bantaeng dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 30 menit . Gua ini berada pada daerah perbukitan sehingga memerlukan tenaga ekstra untuk melihat keindahan obyek wisata ini, jarak dari jalan raya sekitar 300 meter…wah cukup jauh juga yah..tapi anda bisa naik kendaraan loh.
Obyek wisata ini tergolong unik dan langkah dari namanya saja Gua Batu Ejayya berarti Gua Batu Merah, Gua ini dikelilingi dengan bebatuan yang berwarna merah. Disini anda bisa melihat keindahan alam dari atas batu dan dapat melihat gua yang sangat gelap. Disekitar gua ini terdapat banyak pohon randu, dimana masyarakat setempat menggunakannya sebagai bahan baku untuk pembuatan kasur sebagai mata pencahariannya.
Gua ini terbentuk dari batu kapur yang terjadi pada zaman plestosin, dua semacam ini sering disebut abris sous rouce. Pada zaman Plestosin, es yang ada di kutub Utara dan Selatan mancair. Akibatnya, terjadi air pasang hingga beberapa meter daiatas permukaan laut, dan air laur menutui sebagaian besar daratan, karena adanya pukulan-pukulan ombak ke gunung batu kapur maka terbentuklah apa yang disebut gua.
Gua Batu Ejayya pernah ditelit pada tahun 1937 oleh Van Stein Callonfols, ilmuwan dari Belanda, ia melakukan penggalian arkeologi dan menemukan alat-alat batu jenis calsedon berupa serpihan yang digunakan sebagai pencerut dan ujung-ujung anak panah.



lifestyle.okezone.com
Konon, Gua Batu Ejayya ini memiliki latar belakang sejarah yang sangat unik pula, Batu Ejayya memiliki saudara bernama Batunu yang terletak di di desa Mattoanging anehnya satu di perbukitan satu di lautan. Dari turun temurun Batu Ejayya diyakini sebagai tempat keramat, sehingga masih banyak masyarakat dari dalam dan luar daerah yang datang ke tempat ini untuk berdoa dan membawa beberapa sesajen. Percaya tau ngga percaya tergantung keyakinan kita masing-masing.
Disini kita bisa melihat seluruh kota Bantaeng dari kejahuan dengan pemandangan yang sangat indah dan menarik. Kita bisa mengajak keluarga kita untuk berkunjung ke tempat ini dan melihat ketakjuban dari Gua Batu Ejayya.

sumber cerita: http://welcome-bantaeng.blogspot.co.id/
Share:

Agrowisata Strawberry dan Apel bantaeng

kompasiana.com
Di bantaeng yang hanya seluas 395,85 km dengan jumlah penduduk tahun ini sebanyak 185.675 jiwa seolah sepotong surga dianugerahkan ke bumi di daerah ini. Indah nian lekuk jalanan di kaki bukit, berkelok menanjak tanpa kendala. Jalan beraspal yang baru dinikmati sejak tiga tahun lalu ini mengantar kita ke area kavling perkebunan strowberry dan apel seluas 60 hektare. Berada di kemiringan dataran tinggi Loka, menjadikan mata ini bebas menikmati hamparan perkebunan kol, wortel, sawi, kentang, cabe, tomat dan bawang yang tertata rapi bak lukisan berkanvaskan alam hijau. Perkebunan Muntea gunung Loka, terletak di wilayah administratif desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, Sulsel. Lokasi ini berada pada ketinggiannya 1.216 meter di atas permukaan laut. Ketinggiannya, menjadikan udara di area ini demikian sejuk menyegarkan paru-paru, setelah sepekan beraktifitas di kota yang berpolusi asap kendaraan. Rasa gerah di kota karena hujan enggan tumpah, juga akan berganti hawa dingin 18 derajat celcius yang bakal terasa romantis jikalau kekasih tercinta berkunjung bersama Anda.

Tahukah Anda, bahwa sejak zaman Yunani kuno memang strawberry telah menjadi lambang cinta. Bukan hanya karena bentuknya yang mirip hati tetapi juga karena warna, manfaat dan rasa buahnya. Buah yang bermula dari Negeri Belanda ini, hadir di Bantaeng untuk mencipta kehangatan cinta bagi para pengunjung dan tentu akan menambah geliat ekonomi dan pariwisata Bantaeng yang kini semakin bersolek cantik. Tidak hanya strawberri, Apel pun masuk dalam kategori 10 lambang cinta sejati bagi banyak orang. Apel merah yang segar bisa menunjukkan perasaan Anda yang begitu membara. Konon, mereka para pencinta mengharapkan agar rasa cinta yang mereka miliki bisa semanis apel, yang dapat mengusir rasa lapar dan dahaga yang menaungi mereka.

Hanya berjarak kurang lebih 16 Km atau 136 km dari Makassar, pengunjung sudah bisa memetik buah strawberry yang bentuknya mungil, memerah rona serta menggemaskan para bocah untuk segera memetiknya. Sewaktu saya berkunjung bersama keluarga, apel belum berbuah hanya nampak bakal buah yang belum diperkenankan untuk disentuh. Apel di perkebunan wisata ini, didatangkan dari Pusat perkebunan Apel di Batu, Malang Jawa Timur. Bersama istri tercinta dan dua putri kecil tersayang, kami berkunjung ke tempat ini di hari sabtu kemarin (23/11). Sungguh terasa kehangatan cinta diantara kami, istri dan dua putri tersayang. Anak-anak nampak ceriah cekikikan berlarian di tepi bedengan pohon strawberry. Sambil berjingkrak, mereka memetik satu persatu buah merah ranum itu. Bersama istri, saya hanya menikmati kebahagiaan mereka sambil sesekali bergaya di depan kamera untuk mengabadikan suasana. Memang saat itu buah strawberry tak banyak seperti biasanya, anak-anak hanya bisa mengumpulkan buah sekilo. Harga sekilo strawberry, hanya 40.000, jikalau dihitung per-buah, pengelola menghargainya seribu perak. Adapun bea masuk, dibadrol Rp. 5000 per orangnya. Bayaran ini serasa sepadan, karena memang kebahagiaan sulit dihargai dengan mata uang senilai apa pun. Bersama Strawberry, Apel dihadirkan di Banteng sejak awal tahun 2009 yang dipelopori Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah yang baru terpilih saat itu. Menurut informasi, apel di Bantaeng terdiri dari beberapa varietas buah seperti, manalagi, wagli, rombuti, ana, serta beberapa varitas buah yang memiliki cita rasa tersendiri.

jitunews.com

Kebun Apel yang berjumlah kurang lebih 20.000 pohon ini telah di panen beberapa kali. Panen perdana dilakukan pada bulan Juni 2011. Fantastis! Warga Bantaeng yang bahkan tak pernah membayangkan akan ada apel di tanahnya, sudah menghasilkan 15 ton untuk hanya pada luasan 10 hektare yang panen kala itu. Kini, lokasi agrowisata Muntea telah memiliki lahan apel seluas 40 hektare. Kawasan Agrowisata ini hanya ditempuh sekitar 30 menit dari kota Bantaeng. Di puncak, Loka- jikalau kabut tidak menghalangi pandangan, pengunjung bisa menikmati jejeran kecil rumah-rumah di kabupaten Sinjai, Jeneponto dan Bulukumba yang bertetangga dengan Kabupaten Bantaeng. Bahkan, dikejauhan sana masih terlihat samar Pulau Selayar. Kontur alam Bantaeng yang terdiri dari pantai, daratan dan pegunungan ini nampak jelas terlihat di puncak. Berada di puncak tertinggi Bantaeng, tak menjadikan hati kita terisolasi jauh dari kota karena jejeran bangunan di bawah sana nampak jelas terlihat.

Fasilitas pendukung memang masih terasa kurang, seperti areal parkir, warung tempat ngopi di pegunungan dingin atau pun toko cenderamata. Menurut informasi, Pemerintah Bantaeng sementara mengusahakan lokasi perkebunan strawberry dan appel ini bisa menjadi primadona baru Sulawesi Selatan. Infrastruktur jalan sementara dibenahi, demikian halnya dengan berbagai fasilitas pendukung di area tersebut. Semoga kelak semuanya menjadi indah dan membahagiankan para pengunjung. Ayo Ke Bantaeng!

Sumber cerita : kompasiana.com
Share:

Taman Sakura Keputih Surabaya

Setelah sebelumnya pernah mengunjungi Hutan Bambu di keputih yang cocok untuk berfoto ria, sekarang ada salah satu tempat wisata baru di Surabaya yaitu Taman Sakura tepat di seberang hutan bambu. Lokasi ini dulu tempat sampah yang sekarang sudah dikelola dan ditanami berbagai tanaman. Dalam berita koran sering disebut juga Taman Harmoni, tapi pada saat kita ke sana terdapat papan nama Taman Sakura. Hanya nama saja, di dalam taman ini tidak terdapat bunga sakura. Dibandingkan dengan taman lain di kota Surabaya seperti taman Bungkul, taman Sakura ini tidak kalah asri. Terdapat bermacam-macam tanaman & bunga di taman ini, kabarnya masih ada lagi pengembangan taman, diharapkan nantinya bisa menjadi salah satu taman terluas di kota Surabaya.

Jalan ke taman keputih surabaya ini sama saja ketika kita pergi ke taman bambu keputih surabaya karena letak taman bambu keputih berada di sebelah utara taman berbunga ini. sebenarnaya taman bambu keputih yang sering dijadikan obyek fotografi ini terbelah menjadi 2 bagian oleh jalan raya. sebelah utara jalan dan sebelah selatan jalan, hutan bambu yang berada disebelah selatan jalan menjadi satu dengan taman sakura atau taman melati keputih begitu beberapa orang menyebutnya.

begitu juga ketika anda akan pergi ke terminal keputih, anda juga menuju ke Taman Harmoni Keputih Surabaya karena letak terminal berdampingan dengan taman bunga keputih ini. keduanya tidak ada dinding pemisahnya, jika anda berada di terminal maka jalan beberapa langkah anda sudah sampai taman keputih surabaya. ketika telah masuk waktu sholat namun anda masih berada di taman anda dapat sholat di musholla terminal keputih karena saat ini masih belum dibangun musholla di taman sakura ini. jika anda ingin ke taman bunga ini silahkan naik lyn JBM bratang dan turun di terminal keputih atau dapat juga anda naik lyn O dan turun di terminal keputih yang baru dibangun tesebut. utnuk mempermudah silahkan download rute angkot surabaya lengkap di akhir artikel ini.

Fasilitas Taman Harmoni Keputih Surabaya

Meskipun belum lengkap pembangun taman keputih ini, namun jika anda pergi kesini anda tidak akan kecewa. indahnya pemandangan bunga berwarna warni siap menyejukkan mata anda setelah lelah aktifitas selama seminggu. ada banyak bunga yang menantang untuk dipandang seperti bunga jakaranda, pagoda, tabebaya (yang merupakan sakuranya surabaya), bungur dll. mereka dikelompokkan menjadi beberapa blok dan pemisahan warna tiap bloknya, ada bunga warna putih, oranye, merah, ungu, kuning, merah muda dan magenta.

Jangan khawatir untuk biaya masuk taman harmoni keputih surabaya ini karena untuk saat ini gratis alias tidak dikenakan biaya kecuali untuk parkir kendaraan saja. hal ini sama dengan taman-taman kota di surabaya lainnya yang juga tidak dikenai harga tiket masuk alias gratis. konsep taman sakura keputih ini merupakan kombinasi dari taman kota dan hutan kota. dimana 5 ha dari 50 ha digunakan untuk sentra PKL atau kawasan perdagangan agar ekonomi masyarakat juga berkembang.







Bonus: Hutan bambu samping taman



Share:

Di Sendangsono, berdoa tanpa sekat

Sendangsono adalah tempat berdoa bagi siapapun yang ingin memanjatkan doa dengan ketenangan dan ketulusan hati tanpa paksaan, tanpa ajakan ataupun tanpa pengaruh dari siapapun karena disana adalah alam terbuka yang siapapun bisa berdoa dengan suasana alam yang tenang dengan cara apapun kita berdoa Tuhan pasti akan megabulkannya karena Tuhan tidak akan memandang dari mana kita dan siapa kita, kita semua adalah orang berdosa yang hanya bisa berdoa kepada Tuhan kita, kepada Allah kita. Banyak hal yang saya merasa bangga berasal dari daerah ini dimana banyak hal-hal positif, banyak keberagaman yang saling berdekatan, tanpa ada pagar pembatas tapi tetap berpegang teguh pada keyakinan masing2, kebersamaan yang erat, dan keterbukaan akan satu dengan yang lainnya tanpa terusik dengan hal2 yang dapat memecah belah rasa kebersamaan dalam masyarakat. Itulah keberagaman yang ada di sekitar pegunungan menoreh yang mungkin jarang di temukan di tempat lain. Semoga kedamaian ini tetap harmoni.. Matur Nuwun.
Sumber foto: https://www.facebook.com/theodorus.sudimin
Share:

Pantai Marina Korong Batu Bantaeng

stafbupatikabupatenbantaeng.blogspot.com
Pantai Marina adalah sebuah Kawasan Wisata Pantai yang baru dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bantaeng. Daya tarik dan keindahan Pantai Marina Bantaeng tidak kalah dengan objek wisata pantai di beberapa daerah, seperti Pantai Kuta Bali yang telah mendunia. Sebelum menjadi kawasan wisata primadona, lokasi ini dulunya adalah lahan marginal ditumbuhi padang ilalang yang gersang, namun kini semua orang yang melintas di kawasan itu akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan penuh pesona.

Lokasi dan Akses

Pantai Marina terletak di Dusun Korong Batu, Desa Baruga, Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng. Berjarak sekitar 7 kilometer dari Bulukumba, atau kurang lebih 12 kilometer dari kota Bantaeng. Anda dapat menuju Pantai Marina menggunakan kendaraan beroda dua maupun roda empat. Sebelum sampai ke Pantai Marina yang penuh pesona, pengunjung juga bisa menikmati harmoni Pantai Seruni dan Lamalaka yang berada di jantung Kota Bantaeng.

Wisata

Pantai Marina menghadap ke Laut Flores tepat ke arah matahari tenggelam, jadi Anda dapat menikmati terbenamnya sang surya sambil menikmati deburan ombak di Pantai Marina.

Kalau Anda membawa anak-anak, Anda dan anak-anak Anda dapat bermain pasir putih di Pantai Marina. Jika sudah puas bermain pasir, Anda juga dapat bermain di air yang biru.

Anda juga bisa merasakan sensasi bermain jetski atau banana boat di pantai ini. Pengelola pantai menyediakan fasilitas ini khusus untuk pengunjung Pantai Marina. Selain itu, ada juga yang berjualan makanan dan minuman di Tenda-Tenda Pujasera. Warna-warni dari tenda-tenda tersebut menghadirkan kesan ceria di Pantai Marina.

Fasilitas dan Akomodasi

Fasilitas yang disediakan oleh pengelola Pantai Marina antara lain masjid, pasar tradisional yang lengkap dengan berbagai cinderamata, restoran, hotel, kolam memancing, ruang pertemuan, tenda pujasera, SPBU, arena jogging, jetski, banana boat, dan parkir yang luas.

HTM

Tiket masuk : Rp. 3.000 per orang

Parkir : Rp. 1.000 per kendaraan roda dua dan Rp. 2.000 per kendaraan roda empat

Hotel : sekitar Rp. 350.000 per malam (harga dapat berubah sewaktu-waktu)

Tips

Berliburlah bersama keluarga di Pantai Marina saat malam hari, Pantai Marina akan terlihat lebih indah dengan kerlap-kerlip lampu berwarna-warni yang menghiasi pantai ini. Anda juga dapat menikmati suara deburan ombak sambil menyantap makanan di restoran di Pantai Marina.

Jika Anda seorang penikmat senja, Pantai Marina bisa menjadi salah satu tempat yang cocok bagi Anda untuk menikmati senja ditemani dengan sepoi angin pantai dan suara deburan ombak Pantai Marina.


Share:

Pantai Seruni Bantaeng

hore-punya-blog.blogspot.com
Pantai Seruni adalah ikon wisata di Kabupaten Bantaeng, dan bisa dikatakan sebagai saingan dari Pantai Losari, Makassar. Pantai Seruni menawarkan pemandangan laut dengan pantai yang cukup indah untuk diabadikan bagi pegiat sosial media yang ingin berselfie ria. Pantai ini sangat bersih dan terawat karena setiap hari petugas pembersih selalu mengontrol kebersihan pantai tersebut agar nyaman bagi pengunjung.

Lokasi dan Akses

Pantai Seruni terletak sekitar 150 km arah selatan Kota Makassar, sekitar 2,5 jam dari Makassar. Anda dapat menemukan Pantai Seruni dengan mudah jika sudah berada di Kabupaten Bantaeng karena pantai ini terletak di jantung Kota Bantaeng. Untuk lebih jelasnya klik di sini.

Wisata

Pantai Seruni kini menjadi pusat aktivitas warga Bantaeng. Meski Pantai Seruni tak menawarkan rekreasi pantai dan pemandian, namun pemandangan laut dan pantainya cukup indah untuk diabadikan bagi pegiat sosial media yang ingin berselfie ria. Setiap sore apalagi di akhir pekan, banyak warga menghabiskan waktu di Pantai Seruni. Pantai Seruni adalah destinasi yang cocok untuk berburu sunset di Kabupaten Bantaeng. Anda bisa beraktivitas sore seperti jogging, berkeliling naik motor, ngobrol santai dengan sahabat, bermain remote control sambil menunggu sunset tiba.

Senja Pantai Seruni Bantaeng

citizenimages.kompas.com


Fasilitas

Pengelola Pantai Seruni menyediakan berbagai fasilitas seperti bangku-bangku taman, berbagai sarana rekreasi anak-anak seperti mengendarai scuter, naik odong-odong keliling alung-alung, bendi/dokar hias, jungkit, sepeda hias, ayunan, perosotan, panggung utama taman sebagai tempat penyelenggaraan event, helipad, dan berbagai macam penjual makanan kaki lima.

Pada malam hari terdapat pusat kuliner di sini dan Anda bisa mencicipi aneka makanan khas. Pohon-pohon yang dihias dengan lampu yang makin mempercantik suasana malam hari di Pantai Seruni.

Tips

Pastikan baterai kamera atau ponsel Anda terisi dengan baik agar Anda dapat mengabadikan momen momen yang mungkin tidak akan terulang lagi di Pantai Seruni. - sumber http://www.jayanjayan.com/


Share:

Air Terjun Bissapu

wisatabantaenk.blogspot.com
Eksotisme keindahan Air terjun Bissapu di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Indonesia memang tak dapat diragukan lagi keindahannya.

Terletak di Desa Bonto Salluang, Kecamatan Bissapu sekitar 5 km dari Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Air Terjun Bissapu merupakan air terjun tertinggi di Kabupaten Bantaeng.

Aliran Air Terjun Bissapu yang mempesona ini terbentuk dari aliran sungai dari Kecamatan Sinoa dan airnya pun tidak pernah kering di setiap musim termasuk juga pada musim kemarau.

Dengan ketinggian hampir mencapai 50 m dengan dikelilingi pepohonan yang masih asri serta suasana yang sangat damai hanya suara gemuruh air yang terdengar hingga jarak 300 m.

Untuk menuju lokasi ini pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum dengan jarak tempuh sekitar 4 jam dari kota Makassar dan jika dari kota Bantaeng dapat di tempuh sekitar 15 menit melewati jalan aspal dengan tanjakan yang berkelok-kelok.

Biaya masuk ke dalam lokasi air terjun ini terbilang sangat murah, yaitu hanya dengan membayar Rp2.500 rupiah saja pengunjung sudah dapat menikmati keindahan Air Terjun Bissapu.

Fasilitas yang disediakan yaitu kawasan taman sekitar air terjun yang tertata secara alami dan disekitarnya terdapat batu besar sebagai panggung pertunjukkan seni dan tempat beristirahat.

Perjalanan menuju Air Terjun Bissapu sebaiknya dilakukan di pagi harinya karena, sepanjang jalan pengunjung dapat merasakan udara sejuk dan pemandangan alam dengan pepohonan yang tumbuh rimbun yang makin mempercantik suasana dan panorama alam di sekitar air terjun.

Keindahan panorama dan kesejukan alam Air Terjun Bissapu sangatlah tepat digunakan untuk tempat menghabiskan waktu libur bersama rekan dan keluarga. Dengan alamnya yang masih sangat alami sangatlah cocok untuk mereka yang hendak beristirahat sejenak dari kepenatan.

Silahkan Anda sempatkan berkunjung ke air terjun ini jika Anda sedang berwisata ke Makassar.


Share:

Permandian Alam Mata Air Ere Merasa

http://hellomakassar.com
Kabupaten bantaeng adalah salah satu daerah yang didominasi oleh dataran tinggi, masyarakatnya hidup dan bercocok tanam hingga ke daerah paling tinggi. Kabupaten terletak di sebelah timur kota Makassar dan dapat ditempuh dengan perjalanan 5 jam karena hanya berjarak 133 Km dari kota Makassar. Cukup banyak wisatawan yang berdatangan, baik dari Sulawesi dan luar Sulawesi, biasanya pengunjung mencari tiket ke Makassar pada musim liburan dan melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bantaeng.

Kab.Bantaeng memiliki salah satu icon berupa tempat wisata permandian di daerah pegunungan yang biasa disebut permandian eremerasa. Permandian alam eremerasa terletak di kecamatan eremerasa, desa kampala, lokasi permandian ini dapat ditempuh menggunakan kendaraan bermotor karena semua jalanan sudah memiliki aspal baik dengan waktu tempuh 30 menit dari jalan poros Kabupaten bantaeng.

Walaupun jaraknya jauh tetapi perjalanan menuju permandian eremerasa tidak membuat jenuh karena keindahan panorama hutan yang begitu cantik. Pepohonan di sekitar jalanan ukurannya besar – besar dan mejulang tinggi sesuai usianya yang sudah tua. Keberadaan pohon tidak banyak dirusak demi untuk menjaga ketersediaan air bagi warga sekitar. Mata anda juga akan disuguhkan dengan kecantikan bunga – bunga di depan rumah masyarakat yang berjejer rapi. Kabupaten bantaeng juga dikenal sebagai penghasil bunga seperti kryssan dan bahkan saat ini sedang dibudidayakan pohon sakura yang dikenal akan keindahan bunganya tersebut.

Jika ingin menikmati permandian eremerasa terlebih dahulu membayar karcis yang cukup murah dan melewati puluhan anak tangga menurun. Permandian alam eremerasa memiliki 2 kolam utama yaitu kolam yang berukuran besar dengan kedalaman mulai dari 1 – 3 meter dan ada pula kolam khusus untuk anak – anak dengan kedalaman maksimal 1 meter. Keunikan dari permandian ini adalah sumber air untuk kolam dialirkan langsung dari mata air yang dikeluarkan akar – akar pepohonan berukuran 3 meter di sekeliling permandian, hal ini menyebabkan air akan sangat jernih san selalu bersih dari kotoran. Jumlah air di permandian eremerase tidak pernah habis dan tidak pernah pernah keruh di musim hujan, ketika musim kemarau tiba airnya justru semakin banyak.

Anda dapat menikmati kolam renang meskipun tidak pandai berenang karena tersedia banyak ban dalam bekas yang disewakan untuk 1 orang ataupun 2 orang diatasnya, Ban – ban ini sering digunakan untuk membantu berenang di kolam yang paling dalam sekalipun. Meskipun telah disediakan peralatan tersebut sebaiknya selalu menjaga diri bila tidak pandai berenang karena dalamnya kolam di bagian ujung mencapai 3 meter. Rasa penat mengunjungi tempat ini akan hilang dengan suasana alam pegunungan sangat terasa sekali mulai dari suara hewan – hewan yang biasanya ada di dalam hutan hingga suhu udara yang sangat dingin. Uniknya lagi suhu di sekitar permandian tidak ada bedanya antara pagi, siang dan sore semuanya selalu dingin.

Setelah lelah mandi dan merasakan kedinginan biasanya pengunjung menyempatkan diri untuk membeli pisang goreng dan teh panas yang dijual masyarakat di sekitar kolam renang. Cukup banyak masyarakat yang berjualan disini, mereka sangat tahu menu yang pas dinikmati jika tubuh sedang kedinginan. Permandian eremerasa sangat cocok untuk wisata keluarga, terdapat beberapa rumah – rumah kecil untuk tempat ngumpul bersama rombongan keluarga untuk sekedar beristirahat sambil menikmati makanan yang dapat dibawa dari luar permandian.

Share:

Gua Panjat Tebing Soropia Sawapudo

https://ranihasriani.wordpress.com
Dinding TEBING itu berdiri kokoh, tegak menjulang seolah siap menghujam langit. Rimbunan hutan bakau (mangrove) yang dibalut suasana pedesaan di tepi pantai, menjadi sahabat diatas ketinggian. Tebing Sawapudo adalah surga tersembunyi bagi para penggila dan penikmat panjat tebing di Sulawesi Tenggara.

Tebing batu cadas berketinggian 60 meter itu terletak diujung Desa Sawapudo, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Jaraknya sekitar 30 kilometer atau sekitar 1,5 jam perjalanan mini bus dari Kota Kendari.

Jika perjalanan dari Kota Kendari, akan melewati perkampungan suku Bajo di Kecamatan Toronipa dengan hamparan pemandangan laut berlatar belakang pulau Bokori, kemudian melintasi Desa Toronipa, sebelum akhirnya perjalanan sampai di desa itu.

Saat memasuki pintu gerbang Desa Sawapudo, keramahan penduduk sebagai ciri khas masyarakat pesisir akan dijumpai. Aktivitas warga disana pun berjalan alamiah. Para lelaki yang berprofesi sebagai nelayanan sibuk menggayuh perahu menyusuri perairan laut, sedang para wanita sibuk merajut atap dari daun sagu.

Dinding tebing itu tepat berada di ujung Desa Sawapudo. Letaknya menghadap matahari terbit, dihiasi tekstur alamiah membentuk relief abstrak hasil kikisan air. Sungguh spektakuler ! Di relief-relief itulah para pemanjat bergelantung dan merayap saat melakukan panjat tebing.

SEKILAS SEJARAH

Aktivitas panjat tebing atau dalam istilah asingnya Rock Cimbing, sudah dikenal masyarakat sejak lama bahkan oleh masyarakat tradisional. Mereka melakukan pemanjatan guna mencari sumber kehidupan ataupun perlindungan, khususnya di daerah pantai dan kawasan karst (bebatuan) untuk mencari sarang burung atau sumber mata air. Bedanya dengan saat ini, mereka tidak memakai sistem dan prosedur yang baku seperti dalam olahraga panjat tebing, sehingga faktor keamanan dan tingkat resiko yang dihadapi sangatlah tinggi.

Panjat tebing pertama kali dikenal di kawasan benua Eropa tepatnya di kawasan pegunungan Alpen sebelum perang Dunia I. Pada awal tahun 1910, dinegara Austria mulai diperkenalkan peralatan-peralatan yang digunakan untuk menunjang kegiatan panjat tebing seperti carabiner (cincin kait) dan piton (paku tebing) yang pada saat itu masih terbuat dari besi baja. Dan berawal dari situlah, para pendaki dari Austria dan Jerman mulai mengembangkan peralatan dan teknik olah raga ini. Seiring waktu yang terus berjalan, peralatan olah raga ini banyak mengalami inovasi terutama pada bahan pembuatannya, uji kekuatan gaya tariknya, kepraktisan penggunaan alat serta prosedur keamanan alat yang telah distandarkan.

Di Indonesia olahraga panjat tebing sendiri telah terbentuk sejak tahun 1988 yang memiliki organisasi yang pada saat itu bernama FPGTI (Federasi Panjat Gunung dan Panjat Tebing Indonesia) yang kemudian berganti nama dengan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) sampai sekarang ini.

Panjat tebing dikenal sebagai salah satu dari sekian banyak olah raga alam bebas (outdoor activity) dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki, melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45 derajat dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu. Pada dasarnya olah raga panjat tebing adalah suatu olah raga yang mengutamakan kelenturan, kekuatan/daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta keterampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri.

Pada awalnya panjat tebing merupakan olah raga yang bersifat petualangan murni dan sedikit sekali memiliki peraturan yang jelas. Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini sudah ditetapkan bentuk dan standart baku dalam aktivitas panjat tebing yang diikuti oleh para penggiatnya.

TEBING SAWAPUDO

Di Kota Kendari, olahraga panjat tebing sendiri mulai berkembang sejak tahun 1996. Basis terkuat pengembangan olahraga beresiko tinggi ini dimulai dari kampus. Saat itu, panjat tebing digeluti oleh kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA), baik di Univesitas Halu Oleo (UHO) maupun Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra).  Seiring perjalanan waktu, olahraga ini pun terus berkembang bahkan penggiatnya kian menjamur dengan hadirnya Kelompok Pencinta Alam (KPA) yang bebasis di luar kampus.

Tebing Sawapudo sendiri pertama kali ditemukan sekitar tahun 1996 oleh para aktivis panjat tebing MAPALA Unsultra. Berawal dari explorasi kawasan Karts di Kecamatan Soropia, dinding tebing itu ditemukan masih dalam balutan semak belukar. Sejak saat itu, Tebing Sawapudo pun kerap menjadi ruang ekpresi bagi para climber hingga saat ini. Hampir setiap akhir pekan, daerah itu selalu ramai dikunjungi oleh para penggiat alam bebas, baik dari Kota Kedari maupun dari luar daerah, termasuk wisatawan asing.

Selain dinding tebingnya yang eksotis, disekitar tebing juga terdapat beberapa gua yang memiliki pintu masuk cukup menantang, kombinasi antara horizontal dan vertical. Melihat perpaduan antara panjat tebing dan penelusuran gua (Caving) ini, mendorong para penggiat alam bebas bersama masyarakat setempat untuk menobatkan kawasan ini sebagai lokasi Wisata Alam.

PROBLEM DAN TINGKAT KESULITAN

Melihat medannya cenderung slab dengan kemiringan 70 derajat-80 derajat ditambah cacat batuan yang berfungsi sebagai pijakan, boleh dibilang pemanjatan tebing ini tidak terlalu berat. Menurut Aphoel, seorang climber dari MAPALA Tropis-UHO yang pernah melakukan pemanjatan tebing ini, tingkat kesulitannya tergolong sedang. “Sebenarnya, medannya tidak terlalu sulit dan yang paling diutamakan di sana adalah kejelian dan skil memasang pengaman serta pemilihan jalur yang tepat,” ujarnya.

Terhitung hanya ada dua jalur pemanjatan yang tembus hingga ke puncak tebing.Satu jalur nyaris tidak tergolong pada rock climbing karena hanya mengandalkan gerakan berpindah dari point ke point. Pemanjatan dengan sistem ini, paling cocok diterapkan pada jalur big wall sekelas Sawapudo. Ditinjau dari segi konservasinya, sistem pemanjatan ini lebih ramah lingkungan karena berusaha tidak meninggalkan pengaman yang dapat mengotori tebing.

Kondisi jalurnya yang terputus tak tersambung utuh dari dasar hingga puncak tebing, menjadi teka-teki yang harus dipecahkan bagi setiap climber, dengan manajemen pemanjatan yang baik. Melihat adanya beberapa rintisan jalur pemanjatan yang terputus di bagian bawah tebing, sepertinya tak semua pemanjatan berhasil dilakukan. Kegagalan yang terjadi, kemungkinan besar akibat kesalahan memilih jalur di rekahan. Pemanjatan tak mungkin lagi diteruskan, karena tak ada tempat untuk memasang pengaman.

Kegagalan lainnya bisa disebabkan ketidak sesuaian peralatan yang dimiliki dengan model cacat batuan. Rekahan tempat pemasangan pengaman di tebing Sawapudo cenderung khas. Di beberapa jalur, hanya bisa dipasangi beberapa jenis pengaman tertentu, sedangkan piton atau paku tebing yang umum dipakai dibanyak tebing, nyaris tak digunakan sama sekali.

KISAH TERSENDIRI

Terlepas dari tinggi atau rendahnya tingkat kesulitan tebing Sawapudo, pemanjatan di sana sungguh menawarkan kisah tersendiri yang mungkin tidak akan dijumpai di tebing lain. Saat berada di ketinggian, saat digoda buaian angin, atau disaat otot tak kunjung diam gemetar melawan rasa gamang, gerombolan burung bangau yang bermain diantara rimbunan hutan bakau, terbang tak jauh dari tempat kita menggantung, seolah ikut memberi spirit. Tentu, kehadiran mereka menjadi teman yang sanggup mengusir rasa sepi di ketinggian dan memperkuat rasa kedekatan dengan alam. Sementara puluhan spesies kupu-kupu dengan corak warna menarik, beterbangan di sekitar tebing.

Selain nuansa itu, keramahan penduduk juga menjadi sahabat yang tak ternilai. Bagi yang menyukai santapan kuliner sea food, ditempat ini sangat mudah untuk menyantap ikan bakar, cumi bakar ataupun lobster. Hmm, apalagi jika ada sambal pedasnya. Di daerah itu, ada beberapa tempat yang menawarkan suasana khas, salah satunya menyantap kuliner di sore hari di tepi pantai sambil memandangi keindahan sunset.

POTENSI TERANCAM

Boleh dibilang, potensi kawasan tebing Sawapudo ini belum diberdayakan dengan baik, bahkan kini cenderung terancam. Padahal jika dikelola dengan konsep pengembangan wisata yang baik, bukan mustahil tebing ini bisa dijadikan kawasan ekoturisme dengan mengemas Rock Climbing dan Hill Walking.

Tebing Uluwatu di Bali, mungkin bisa dijadikan sebagai pembanding. Jika tebing di Uluwatu didukung keindahan laut, Tebing Sawapudo tidak hanya didukung keindahan laut tetapi keindahan hutan bakau (mangorove) dan keanekaragaman hayatinya. Kawasan ini juga amat memungkinkan dijadikan konservasi yang berguna bagi keseimbangan alam dan ilmu pengetahuan. Sayang, potensi yang belum terdata itu, kini nyaris habis.

Aktivitas penambangan batuan untuk memenuhi kebutuhan perumahan warga di perkotaan menjadi ancaman serius kawasan itu. Bagaimanapun tebing Sawapudo merupakan salah satu aset Kabupaten Konawe. Artinya, tebing dan kawasan sekitarnya seharusnya tetap dijaga, baik oleh masyarakat setempat maupun pemerintah daerah. Masih ada peluang untuk mengemas kawasan ini menjadi daerah bernilai tinggi dan tetap lestari. Dengan demikian, kita masih memberi peluang kepada generasi mendatang untuk turut merasakan keringat dan getaran nyata saat merayapi dinding Tebing Sawapudo…Salam Satu Jiwa. (beritakendari.com)

Share:

Air Terjun Larowiu

http://blognyadhedhykp.blogspot.co.id/
Air terjun Larowiu masih “perawan”.Dinas Pariwisata Kabupaten Konawe dan masyarakat di sekitarnya belum mengeksploitasi kawasan tersebut menjadi objek wisata. Suasananya begitu alami tanpa sentuhan tangan manusia pada tekstur alamnya. Hanya beberapa orang pecinta alam yang sempat menelusuri lokasi tersebut. Sangat eksotis. Airnya terasa dingin sedingin es. Meskipun terik mentari menghadang, namun dingin air di Sungai Larowiu masih sangat terasa. Sungguh fantastik dan begitu memukau.
 Salah satu pesona yang memberikan kesegaran jika berada di wisata tersebut. Larowiu dan airnya yang segar itu membawa kebersihan diri dan kesejukan bagi siapa saja yang merasakannya. Pemandangan alamnya yang begitu spektakuler. Deras aliran air terus menerus meluncur tanpa henti, membentuk kolam air yang tenang dan  berlanjut mengaliri sungai hingga mengairi persawahan penduduk. Kolam inilah yang menawarkan kesegaran khas Air terjun Larowiu itu. Orang-orang dapat bermain air dan mandi di sana dengan asyiknya.
 Untuk mencapai air terjun ini harus butuh tenaga ekstra, karena medan yang menanjak dan jalan yang sempit serta licin. Wajar saja, sebab Air Terjun Larowiu memang masih alami. Pengunjung harus berjalan kaki melewati bebatuan, tangga manual, hingga menyusuri sungai di dalam hutan untuk mencapainya. Namun, Anda tak perlu khawatir.  Rasa lelah setelah berjalan kaki sejauh sekitar 1 kilometer akan terobati setelah sampai di bawah air terjun.
 Ya, selain indah, air terjun setinggi sekitar 40 meter ini memang benar-benar masih perawan dan sangat  alami, karena belum terlalu banyak tangan manusia yang menjamah dan mengotorinya. Air terjun tersebut berlokasi di Desa larowiu Kecamatan Meluhu Kabupaten Konawe. Meskipun lokasinya terbilang jauh, air terjun ini selalu dikujungi  pada setiap akhir pekan oleh sekelompok penantang alam. Anda bisa mencoba trekking disini. Pendakian akan terasa sulit karena medannya yang menajak dan berkelok-kelok. Namun, udara sejuk khas pengununangan akan membuat kegiatan trekking Anda semakin menyenangkan. Jika anda telah sampai di air terjun tingkat pertama maka pemandangan hijau menyejukkan mata pun akan disuguhkan kepada Anda.
 Kurang lengkap jika hanya sampai ditingkat pertama yang tingginya hanya sekitar 10 meter saja, karena “surga” air terjun Larowiu berada di tingkat kedua. Semua pengunjung selalu menuju tingkat kedua yang mempunyai ketingginan sekitar 40 meter, ditambah lagi berdekatan dengan tingkat ketiga yang tingginya sekitar 8 meter. Tapi tak mudah mencapai tempat tersebut. Pengunjung harus melalui tangga manual yang terbuat dari kayu, hingga harus berpegangan diantara tebing. Jika pengunjung yang takut ketinggian, akan gemetaran melewati tempat tersebut. Tapi semua tegangan akan hilang seketika, jika sampai di tingkat dua. Bukan hanya disuguhkan kejernihan air terjun disertai dengan suara gemericik yang menderu, namun juga tersedia kolam alami persis di bawah air terjun dengan
luas 10x10 meter dengan kedalaman 1 hingga 3 meter.
 Air terjun ini juga merupakan hulu dari Sungai yang merupakan tanda pembatas alam antara Kabupaten Konawe dengan Kabupaten Konawe Utara. Kawasan air terjun ini memang masih sangat asri, tidak banyak wisatawan lokal yang tahu mengenai tempat ini. Yang akan Anda jumpai bukan lagi gerombolan-2 turis, atau pedagang asongan atau berbagai keriuhan lainnya, tapi ketenangan yang masih sangat alami. Tempat ini menjadi alternatif untuk menjauh dari riuhnya wilayah perkotaan, menghilangkan kebosanan dari kesibukan sehari-hari.
 Ismail Haris, warga Desa Analahumbuti Kecamatan Wawotobi mengatakan, saat libur tahun baru, libur hari raya keagamaan, dan hari libur lainnya, lokasi air terjun Larowiu selalu dikerumuni warga yang hendak berwisata menikmati panorama alam disana. Tidak hanya warga di Kecamatan Meluhu saja yang menjadi langganan air terjun ini. Namun, warga di kecamatan lainnya turut menikmati. “Biasa memang kita datang ke sini kalau libur. Daripada ke pantai terlalu banyak orang,” ujar ayah satu anak itu.
 Karena alamnya yang masih perawan sehingga dijadikan sebagai tempat favorit bagi kelompok pegiat alam di daerah setempat. Tracknya cukup menantang, mulai dari tanjakan dan turunan terjal pendek, jalan setapak diantara bebatuan. Bahkan dari pinggir jalan kita bisa menikmati beningnya air sungai yang mengalir.Jika kamu datang kesini, jangan lupa bawa air minun dan cemilan secukupnya. Sungguh nikmat merasakan desiran angin gunung saat kita bisa duduk di bebatuan sambil menikmati hijaunya daun dan pepohonan yang rimbun ditemani beberapa camilan.
 “Bagi kami pegiat alam, daya tarik yang menonjol dari air terjun ini adalah terdapatnya hutan alami, ditumbuhi beraneka ragam pepohonan hutan beserta semak belukarnya sehingga menambah indahnya panorama dan kesejukan alam sekitarnya. Lokasi ini juga sering digunakan untuk perkemahan, karena sangat mengasikkan jika dapat menyasikan hamparan air terjun pada pagi hari,” jelas Mail-sapaan Ismail Haris.


--Baru 12 Tingkat Teridentifikasi

 Panorama alam di air terjun Larowiu sangat luar biasa. Rasa penanasaran untuk menjelajahi titik teratas  air terjuntersebut belum terjawab. Hingga saat ini, penelusuran tingkatan air terjun baru mencapai tingkat ke 12. Bayangkan saja, dari tingkat pertama ke tingkat kedua, tingginya diperkirakan mencapai 40 meter.
 Informasi yang dihimpun, penelusuran puncak air terjun meluhu belum bisa ditemukan. Marlyn alias Pundy, Warga Desa Analahumbuti Kabupaten Konawe mengatakan, air terjun Larowiu tak hanya mencapai tingkat 12 saja, sebab masih banyak tingkatan lagi diatasnya yang lebih menarik. Dari survey darurat, dirinya dan para pegiat alam pernah mencapai hingga tingkat 12. Namun, jaraknya selalu berjauhan. Hanya, tingkat dua dan tiga saja yang berdekatan.
 “Di tingkat dua itu belum terlalu menarik. Bahkan ada yang lebih menarik lagi. Bayangkan ada tingkatan yang berbentuk perahu terbalik. Di tingkatan itu, airnya menyatu lalu membelah dua. Pokoknya sangat unik. Bahkan ada tingkatan yang berbentuk seluncuran yang jaraknya sekitar belasan meter. Namun, sayangnya tak bisa dikunjungi pengunjung, karena jaraknya sangat jauh. Memakan waktu setengah hari untuk mencapai tempat-tempat tersebut, ditambah lagi jalurnya yang menantang. Kami pada waktu itu, sesekali memanjat tebing kadang juga harus melewati hutan dan pegunungan,” jelasnya.
 Sampai saat ini, warga setempat masih penasaran karena belum mengetahui siapa sebenarnya penemu pertama air terjun Larowiu itu. Meskipun sudah ramai dikunjungi tapi tak pernah ada satu orang pun yang menyinggung nama penemuanya. Tapi kabar yang beredar, penemu air terjun ini beberapa pencari rotan, yang dengan tanpa sengaja menarik hasil rotannya dari dalam hutan hingga akhirnya bisa sampai di pinggir jalan.
 Emin, Warga Meluhu mengatakan, menurut informasi yang beredar jika penemu air terjun itu adalah para pencari rotan. Sebab pengunungan di Kecamatan Meluhu kerap dijadikan lahan untuk mencari rotan. “Para pencari rotan ini, kabarnya telah menelusuri semua sungai yang berada di pegunungan Meluhu. Beberapa pencari rotan sering bercerita, sungai yang membentuk air terjun bersal dari satu danau yang berada diatas pengungan. Dimana danau itu, terbagi beberpa percabangan sungai, yang mengalir di berbagai tempat,” katanya.



--Tujuh Kilometer dari Pemukiman--


 Lokasi air terjun Larowiu terbilang cukup jauh. Dari pemukiman penduduk, jaraknya diperkirakan masih mencapai 7 kilometer. Tidak ada akses yang dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan. Jelajah ke air terjun Larowiu harus ditempuh dengan berjalan kaki. Begitu alaminya, kawasan tersebut juga bebas dari jaringan telepon selular. Tidak ada signal di kawasan itu. Handphone bukan lagi berfungsi sebagai alat komunikasi jarak jauh, namun beralih menjadi alat dokumentasi untuk mengabadikan perjalanan.
 Ismail Haris, warga Konawe mengatakan, perjalanan dari Konawe ke Konut melalui jalur tersebut menjadikan pintu masuk kawasan air terjun Larowiu sebagai tempat peristrahatan. Meski jaraknya masih 7 kilometer dari pemukiman penduduk, namun kesegaran alam sangat terasa.
 “Lokasinya sangat jauh. Saat perjalanan, pengunjung sering mendapat hambatan, seperti bocor ban di jalan. Mau menghubungi kerabat tidak bisa karena tidak ada jaringan, terpaksa menyimpan motornya di pinggir jalan sambil menuggu mobil lewat dan meminta tolong memuatnya hingga perkampungan. Tetapi ada juga yang nekat mengendarainya tanpa angin, dengan rela menuruni pendakian yang sebelumnya telah dilewati dari pada harus menunggu berjam-jam sampai mobil lewat,” katanya.
 Meskipun jaraknya sangat jauh dari perkampungan, namun tak pernah menyurutkan
niat bagi penggemar air terjun. “Inilah kehebatan dari air terjun Larowiu, meskipun jauh namun tetap selalu dikunjungi. Bahkan jika kami rindu dengan air terjun ini, kami selalu menyempatkan diri berkemah semalam di air terjun ini,” jelasnya.

--Pemda Konawe Belum Tertarik--

 Meskipun keindahan alam yang dimiliki air terjun Larowiu begitu menggoda, namun belum ada minat bagi Pemda Konawe mengekploitasi kawasan tersebut menjadi objek wisata. Air Terjun ini belum dikenalkan ke publik pada jangkauan lebih luas. Banyak orang yang belum mengetahui adanya permata alam tersembunyi di daerah Konawe ini. Mungkin karena jaraknya yang sulit dilalui dengan kendaraan roda empat maupun sepeda motor, sehingga belum dikelola. Potensi alam itu hanya dijadikan tempat mandi dan dikunjungi oleh warga sekitar. Sebab, dari tahun ke tahun, potensi air terjun ini tidak ada perubahan sama sekali. Infrastruktur bangunan maupun jalan menuju lokasi agak tertutup, sehingga keberadaannya kurang diketahui oleh masyarakat.
 Tak adanya sentuhan dari pemerintah, tak ada juga retribusi yang dikenakan pada saat berkunjung ke wisata ini. Padahal warga setempat sangat berharap, pemerintah mengembangkannya menjadi objek wisata. Ismail Haris Warga Konawe, mengatakan, andaikan saja tempat ini diperhatikan pemerintah, pastinya wisata ini akan dikenal oleh banyak orang. Air terjun Larowiu memiliki ketinggian yang mencapai 40 meter, serta kesejukan yang alami.
 “Objek wisata ini sangat potensial untuk dikembangkan, tinggal dibenahi sedikit-sedikit seperti penyediaan sarana, lahan parkir, jalan menuju air terjunnya harus disediakan tangga karena selama ini kami hanya menggunakan tangga manual yang sudah lapuk, dan pemondokan. Dengan adanya fasilitas-fasilitas seperti itu saya yakin akan semakin ramai dikunjungi,” [ sumber di ambil dari http://blognyadhedhykp.blogspot.co.id/ ]
Share:

Wisata Alam Permandian Air Terjun Kumapo Dahu


http://garda-sultra.blogspot.co.id/
Permandian Air terjun kumapo dahu merupakan lokasi wisata alam alternatif yang berada sekitar 15 km dari pusat Kota Unaaha Ibu Kota Kab. Konawe, untuk masuk ke lokasi tersebut dari arah Kolaka, Unaaha maupun dari arah Kota Kendari kita akan berhenti di depan Perpustakaan Daerah Kab. Konawe, kemudian masuk di jalan yang berada di samping Perpustakaan Daerah Menuju Kantor Camat Anggaberi.
        Dari Perpustakaan Daerah Ke Kantor Camat Anggaberi jarak tempunya sekitar 10 km dan dari kantor Camat Anggaberi (Di Kel. Andabia) ke lokasi Permandian tersebut sekitar 5 km, dalam perjalanan menuju lokasi Permandian dari Perpustakaan Daerah kita akan melintasi beberapa Kelurahan dan Desa dalam Wilayah Kecamatan Anggaberi diantaranya Kel. Parauna, Kel. Unaasi, Kel. Lawulo, Desa Persiapan Wunduongohi dan Kel. Andabia.
       Permandian Air Terjun Kumapo Dahu di temukan oleh warga Kel. Andabia (Restelmen) sekitar tahun 1995 yang kemudian di bersihkan Pemuda-Pemudi se Kec. Anggaberi dan di manfaatkan sebagai lokasi wisata. Kemudian sekitar tahun 2007 Wisata Alam ini mendapat perhatian dari Pemda Konawe melalui pembangunan akses jalan sampai ke lokasi Permandian, Pembangunan Bak (Sistem DAM) untuk memperluas areal genangan air terjun, Pembangunan Pintu Gerbang, Pembuatan Lantai (Pengecoran) titik areal  Air Jatuh.

http://garda-sultra.blogspot.co.id/

       Selama  kurung waktu 5 tahun setelah pembangunan wisata alam tersebut pengunjung cukup ramai dan padat terutama di saat hari-hari libur besar, namun sekitar tahun 2001 pemgunjung mulai berkurang secara drastis karena kurang terawatnya fasilitas wisata tersebut dan akhirnya terbengkalai.
        Pada pertengahan tahun 2011 beberapa pemuda dari Kel. Lawulo yang di dukung oleh para Aktivis LSM GARDA Sultra berinisiatif untuk merawat dan membersihkan Permandian Air Terjun Kumapo Dahu dan alhamdulillah saat ini mulai di manfaatkan lagi, beberapa pengunjung dari sekitar Kota Unaaha mulai berdatangan. Permandian ini dapat di jangkau dengan Kendaraan bermotor roda empat dan roda dua

Suguhan Keindahan Air Terjun Kumapo Dahu

    Segarnya udara akan kita rasakan ketika memasuki pintu gerbang permandian dengan suasana alam yang masih terjaga, gemercik air terjun akan terdengar dari ujung jalan yang jaraknya sekitar 50 meter dari titik air terjun, segarnya air dari terjunan air yang terjal akan kita rasakan ketika berada di bawah guyuran air terjun.
      Ketinggian tebing terjunan air sekitar 19 meter, suasana alam yang begitu damai dan sejuk mampu menghilangkan kepenatan aktivitas keseharian kita, alangkah ruginya kita semua kalau kita tidak mencoba berkunjung di wisata alam kumapo dahu ini. [ sumber berita http://garda-sultra.blogspot.co.id/ ]
Share:

Keindahan bawah laut Pulau Hari

www.yukpegi.com
Nama pulaunya kaya nama adminnya Idblogpacker kawan.. wkwkwkwk Namanya pulau Hari, sebuah pulau dengan permukaan air yang jernih membuat para pengunjung bisa memandang dengan jelas gugusan karang besar dan kecil yang terdapat di dasar laut. Selain itu, Pulau INI juga memiliki hamparan pasir putih yang bersih.Ya, inilah Pulau Hari merupakan sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang yang terletak di bagian timur kota Kendari Sulawesi Tenggara. Pulau ini terkenal dengan keindahan panorama alamnya yang masih alami.

Disini Anda bisa menyaksikan hutan-hutan kecil yang masih alami, sebab pulau ini belum ada sentuhan bangunan modern ataupun bangunan tradisional sama sekali. Disekeliling pulau ini, terdapat beberapa spot atau titik penyelaman, khusus bagi para wisatan pengemar wisata atau olah raga selam atau para diver.

Pulau Hari merupakan salah satu solusi bagi Anda yang butuh ketenangan dan tantangan alam bahari nan natural. Untuk menjangkaunya tak sulit. Dari kota Kendari, Anda bisa menempuh perjalanan laut menggunakan perahu atau speed boat selama kurang lebih ,5 jam.

Pemandangan pantai yang berpadu secara alami dengan garis-garis kebiruan  air alut merupakan tantangan bagi pecinta fotografi untuk mengabadikan keindahan alam pualu ini.

Sedangkan untuk pengunjung yang hobi dengan diving atau snorkeling, pada kedalaman tujuh hingga delapan meter, beningnya air membuat mata telanjang pun mampu menembus pemandangan taman laut dengan warna-warna yang cantik dan menawan. Terdapat 15 site diving di pulau ini.


http://www.suarakendari.com/
Di sekitar site diving, sejumlah ikan yang cantik akan menemani Anda berenang. Beberapa clown fish lucu yang mirip dengan Nemo, banyak dijumpai disini. Adapun jenis ikan Angel. Beberapa jenis ikan yang masuk dalam kategori hampir punah ada di sini, di antaranya ikan Sunu, Kerapu, Sotong, Gurita, Lobster, dan bila beruntung, pengunjung bisa melihat atraksi penyu.

Binatang laut yang tak kalah menarik adalah Kelinci Laut atau biasa dikenal Nudibranch dan Electrik Clamp, bentuknya adalah kerang laut yang mengeluarkan cahaya pada malam hari. Hewan ini bisa dijumpai pada kedalaman enam hingga delapan meter.

Saat ini, ada dua club diving lokal yang setiap hari sabtu hingga minggu intens mengeksporasi tantangan di pulau ini. Sedang untuk wisatawan nasional dan internasional , hampir setiap tahun pasti ada yang berkunjung.

Akses munuju pulu hari, dari kota Kendari, hanya membutuhkan waktu satu jam dengan menggunakan boat yang  banyak terdapat di pelabuhan rakyat  dekat area kompleks Pasar Sentral Kota Lama, Kendari. [cerita di ambil dari situs http://www.suarakendari.com/ ]

Berikut keindahan bawah laut Pulau Hari:

Share:

Pulau Bokori, Surga di Lepas Pantai Kendari

http://bugistraveler.com/
Pulau Bokori adalah pulau cantik di dekat perkampungan Suku Bajo di lepas pantai Kendari, Sulawesi Tenggara. Pulau berpasir putih ini tak berpenduduk. Anda hanya melihat deretan pohon kelapa yang menghias pulau itu.

Pulau Bokori menjadi tempat wisata untuk warga sekitar Kota Kendari. Mereka membawa bekal sebelum menyeberang ke pulau ini.

Membakar ikan menjadi kegiatan yang mengasyikkan bagi mereka, sambil bermain pasir atau berolahraga voli pantai. Hati- hati bagi yang suka berenang karena banyak sekali bulu babi di sekitar Pulau Bokori ini.

http://www.suarakendari.com
Tips Jalan-jalan Ke Pulau Bokori

  •     Kalau cuaca sedang cerah-cerah sebaiknya berangkatnya agak siangan aja gpp.. kemungkinan besar kamu bakal dapat sunset yang keren;
  •     Harga sewa Kapal lebih murah jika kamu rombongan
  •     Kalau mau nginap monggo, Pulau Bokori sudah lengkap fasilitas cottage nya
  •     Bagi yang suka berteriak ketika cuaca panas, jangan lupa bawa payung dan #sunblock
Yuk lihat keindahannya:

Share:

Pantai Batu Gong

http://paketwisatakendari.com/
Pantai Batu Gong Sulawesi Tenggara – terletak di Kendari, Sulawesi Tenggara obyek wisata ini menjadi favorit bagi masyarakat setempat untuk mendapatkan lokasi rekreasi yang murah meriah. Karenanya, tak aneh jika pada musim liburan panjang, pantai ini selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik. Sedangkan pada hari libur biasa, pantai ini telah menjadi buruan utama masyarakat kota Kendari untuk ajang rekreasi keluarga.

Mengapa disebut Pantai Batu Gong? hal ini dikarenakan saat memasuki kawasan ini , pengunjung akan mendengarkan bunyi sayup sebuh gong yang dipukul. Konon bunyi itu berasal dari gugusan karang yang terlihat di sebelah selatan pantai Batugong. Namun ada juga sebagian yang meyakini jika suara gong itu sendiri sebenarnya bukan dihasilkan dari sebuah gong yang dipukul orang, melainkan dari hempasan deburan ombak yang kuat ke dinding sebuah tebing di pantai. Hempasan deburan ombak itulah yang kemudian menghasilkan suara yang mirip gong. Itu sebabnya masyarakat sekitar sering menyebut pantai yang terletak di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, berjarak sekitar 17 kilometer sebelah utara Kota Kendari ini dengan sebutan Pantai Batu Gong atau Pantai Teluk Gong.
flickr.com
Jauhnya letak pantai ini dari pemukiman warga dan membuat suasana pantai ini terasa lebih sunyi dan sepi sekaligus alami. Pantai Batu Gong ini memberikan pemandangan Laut Banda yang biru dan luas serta gugusan pegunungan Nipanipa berdiri tinggi dengan gagah padasisi lainnya. Akses menuju pantai yang terletak di Desa Lalonggaluku Kecamatan Sampara ini memang relatif mudah karena banyaknya sarana transportasi darat yang bisa digunakan masyarakat kotaKendari. Bila Anda menggunakan kendaraan pribadi perjalanan yang dapat ditempuh untuk sampai ke pantai ini membutuhkan waktu 40-50 menit dengan kecepatan rata-rata 70-80 kilometer per jam , sedangkan jika menggunakan kendaraan sewaan, harganya bisa
mencapai Rp. 60.000.

Akses menuju Wisata Pantai Batu Gong :
– Dari Sumbawa : Naik Bus kecil yang menuju ke Lombok / Taliwang
– Dari Lombok / Mataram : Naik Bus Jurusan Mataram – Sumbawa


Share:

Keindahan Pantai Toronipa

turismatravel.com
Pantai Toronipa terletak di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara merupakan pantai yang masih asri dan belum dikelola secara profesional oleh pemerintah. Panjang garis pantainnya mencapai 4 KM dengan pasir berwarna putih. Pantai toronipa, lokasinya di ujung timur Kota Kendari. Panorama alam, deburan ombak Laut Banda serta pasir putih yang terbentang luas merupakan perpaduan yang asyik untuk diminati. Juga bibir pantai yang dipenuhi nuir pohon kelapa membuat suasana pantai semakin asri, sejuk dan damai. Selain itu Pantai Toronipa juga sangat landai, bahkan hingga 1 km ke arah laut tinggi air masih hanya sedalam 1 meter saja.

Disekitar pinggiran pantai toronipa  banyak tersedia pondok-pondok kecil yang memang disewakan untuk para keluarga-keluarga yang berlibur kesini dalam jumlah besar. Saat hari libur, sedikitnya 1000 wisatawan lokal dan nasional memadati bibir pantai untuk menyaksikan laut lepas, mencari binatang laut seperti bintang, ubur-ubur, kepting, kerang, bulu babi yang bergelimpangan di pinggir pantai akibat air surut.
indoexland.blogspot.com

Untuk menuju pantai toronipa jika dari Kota Kendari Sultra, hanya ditempuh sekitar lebih kurang 45 menit, dan tidak akan mengeluarkan banyak ongkos, sudah dapat menikmati pantainya.

Berikut Idblogpacker sertakan videonya:


Share:

Benteng Portugis Amurang

manado.tribunnews.com
Benteng Portugis itu terletak di Amurang, ibukota Kabupaten Minahasa Selatan, sebuah kabupaten di bagian selatan Provinsi Sulawesi Utara. Amurang memiliki teluk yang punya jejak historis tempat singgahnya berbagai bangsa dari belahan dunia ketika itu.

Amurang berasal dari kata Amoer yang merupakan nama sebuah sungai di daerah Manchuria. Sungai itu ramai dilalui bangsa Portugis dan Spanyol saat berdagang ke Tiongkok dan menjadi jalur penting bagi perdagangan. Ketika Portugis menginjakkan kakinya di Sulawesi Utara pada sekitar tahun 1500-an, mereka melihat kekayaan alam di daerah Selatan ini berupa rempah-rempah. Dan jadilah tempat rempah-rempah itu ramai dengan kegiatan perdagangan berbagai bangsa.

Oleh bangsa Portugis, mereka menamakan daerah itu dengan sebutan Amoer. Lalu kedatangan bangsa Belanda menyebut kata Amoer dengan dialek mereka, Amoerlang dan hingga kini menjadi Amurang.

Ramainya perdagangan waktu itu membuat banyak bangsa yang mampir ke Amurang. Sehingga kini masih banyak dijumpai penduduk Amurang yang merupakan keturunan balsteran Portugis, Belanda, Spanyol, Inggris, Jerman bahkan Yahudi. Orang Belanda menyebutnya sebagai keturunan Boerger atau sekarang dikenal sebagai orang Borgo.

Benteng Pertugis di Amurang bisa dijumpai di Kelurahan Uwuran Satu, Kecamatan Amurang. Letaknya mudah sekali dijangkau, karena tepat berada di samping Pasar Amurang. Diperlukan waktu sekitar satu jam dengan kendaraan mobil dari Manado untuk mencapai lokasi benteng ini.

Saat Kompas.com berkunjung ke benteng itu, terlihat sebuah bangunan kokoh dari batu yang berbentuk huruf D setengah bulatan, setinggi kurang lebih tiga meter. Bangunan ini hanyalah sisa dari bangunan benteng secara keseluruhan yang dulunya meliputi kawasan seluas tiga hektar. Kini luas area benteng itu sendiri tersisa 25 x 50 meter yang sudah dipagari oleh pemerintah daerah Minahasa Selatan.

Portugis membangun benteng ini pada waktu itu untuk melindungi aktivitas perdagangan mereka di Amurang dari ancaman perompak. Pada tahun 1943 saat Perang Dunia II, benteng ini diserang habis-habisan oleh tentara sekutu, sehingga menyisahkan apa yang bisa dilihat sekarang.

Benteng ini semula dibangun di tepi pantai hanya untuk menampung para serdadu dan rohaniawan Portugis. Tetapi karena letaknya yang strategis, benteng ini kemudian menjadi pusat penaklukan Portugis ke wilayah Minahasa lainnya.

Ketika masih utuh, benteng ini dilengkapi dengan senjata meriam yang menghadap langsung ke arah Teluk Amurang. Terdapat pula beberapa bangunan pelengkapnya, seperti barak, gudang, fasilitas militer bahkan sebuah kapel (gereja kecil). Pada tahun 1700-an, bangsa Belanda menguasai benteng ini dan kehadiran mereka banyak mempengaruhi sejarah orang Minahasa.

Benteng Portugis di Amurang ini bisa dijadikan sebagai jejak sejarah perjalanan panjang orang Minahasa. Beberapa jejak sejarah itu, selain terlihat dari kehadiran Benteng, juga bisa ditemui dari berbagai benda peninggalan bangsa Eropa yang sering ditemui warga ketika melakukan penggalian.

Sayang beberapa meriam yang dulunya masih ada di benteng Portugis ini, kini sudah raib. Menurut keterangan penduduk yang berada di sekitar benteng, dulu ada enam meriam. Tetapi meriam-meriam itu kemudian dipindahkan oleh penguasa pada waktu itu, karena belum adanya undang-undang yang mengatur mengenai benda-benda purbakala dan sejarah. [sumber http://travel.kompas.com/ ]
Share:

Air Terjun Winosirang

http://deliksulut.com
keindahan Air Terjun Winosirang, Desa Toyopon, Kecamatan Motoling Barat, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) akan memikat hati pengunjung.

Meski jarak tempuh menuju cukup jauh sekitar 10 kilometer dari Desa Raanan Baru, Kecamatan Motoling Barat namun saat tiba lokasi dengan pemandangan alam yang masih alami, akan sepadan dengan perjalanan jauh yang ditempuh dengan disuguhkan.

Air Terjun Winosirang yang berarti aerjatuh (Air Jatuh) memang layak anda mencoba untuk mengunjungi, namun salah satu kendala akses jalan yang belum memadai, sehingga jarang dikunjungi.

Menurut generasi muda Motoling menyatakan tempat tersebut pada waktu dulu ramai di kunjungi, namun sayang beberapa tahun terakhir jarang di kunjungi, diakibatkan akses jalan belum tersentuh pemerintah daerah, khususnya instansi terkait.


Air terjun winorsirang, kini hanya dikunjungi sebatas penggiat alam saja, besar harapan mereka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minsel menjadikan lokasi wisata alam yang layak dikunjungi, dengan membuka akses jalan menuju lokasi.

Berikut cuplikan videonya:


Share:

Danau iloloy

http://orlanfm.blogspot.co.id
Danau iloloy adalah salah satu danau yang dimiliki desa mokobang yang berlokasi jauh di dalam hutan yang ada di desa mokobang. DAnau ini sangat indah dengan dikelilingi hutan hijau dan gunung serta beberapa pondok (sabuah) dari nelayan yang berasal dari beberapa desa antara lain desa Temboan dan tentunya nelayan asal desa mokobang. Danau iloloy menjadi salah satu kebanggaan masyarakat desa mokobang, khususnya bagi nelayan dan keluarganya karena danau ini merupakan tempat pencaharian nafkah utama bagi mereka.

Pesona danau iloloy sangat kuat. Airnya yang jernih dengan kekayaan akan beberapa jenis ikan seperti ikan mujair, ikan mas, ikan kabos, dan beberapa jenis ikan lainnya serta diperindah dengan rumput ilalang dan teratai serta berbagai jenis burung yang ada membuat danau iloloy sangat terkenal di daerah Minahasa bagian selatan khusunya di wilayah kecamatan Modoinding, Tompaso Baru dan sekitarnya.
Share:

Pantai Guci Batu Kapal

travel.detik.com
Pantai Guci Batu Kapal yang terletak di Kalianda, Lampung Selatan memiliki bibir pantai yang cantik ditambah keindahan matahari terbenam yang tak terlupakan. Namun di balik keindahan yang ditawarkan pantai ini, ada cerita legenda dibalik nama Pantai Guci Batu Kapal.

Sebuah cerita legenda kuno menjadi latar belakang nama dari tempat ini. Di pantai ini terdapat batu-batu karang yang berbentuk menyerupai kapal. Batu-batu karang itu dapat kita lihat di sisi kanan pantai. Konon tempat ini adalah sebuah pelabuhan.

Menurut Legenda, batu-batu karang yang ada di tengah laut itu dulunya adalah kapal-kapal bangsa asing pada zaman Majapahit. Si Pahit Lidah tidak menyukai itu lalu mengutuk mereka menjadi batu. Si Pahit Lidah adalah tokoh legenda di Sumatera yang memiliki kesaktian mampu mengubah apa pun yang dikutuknya menjadi batu. Menurut cerita, dia bernama asli Serunting, seorang pemuda asal jazirah Arab yang berkelana ke Sumatera dan masuk melalui Aceh. Wilayah kelananya meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Lampung.

Berikut rute untuk menuju pantai  guci batu kapal:

Jika kalian dari Kota Bandar Lampung, kalian akan menempuh jarak sekitar 67,8 Km, menuju ke Desa Maja, Kalianda Lampung Selatan, Anda bisa menaiki Bus yang menuju arah Bakauheni,
Biaya Bus standar dengan biaya Rp.10.000 - Rp.20.000
Bus Eksekutif dengan biaya Rp. 20.000 - Rp.50.000
Jika kalian sudah naik bus, anda bisa menaiki ojek untuk menuju ke pantai guci batu kapal desa maja kalianda, lampung selatan.
Biaya naik Ojek sekitar Rp.10.000 - Rp.30.000

 Jika kalian dari Luar Lampung, start kalian dari bakauheni akan menempuh jarak sekitar 31 Km, menuju ke Desa Maja, Kalianda Lampung Selatan,

Anda bisa menaiki Bus yang menuju arah kota Bandar Lampung, tapi anda turun di sekitar kecamatan kalianda ya, tepatnya mau kedesa maja
Biaya Bus standar dengan biaya Rp.10.000 - Rp.20.000
Bus Eksekutif dengan biaya Rp. 20.000 - Rp.50.000
Jika kalian sudah naik bus, anda bisa menaiki ojek untuk menuju ke pantai guci batu kapal desa maja kalianda, lampung selatan.
Biaya naik Ojek sekitar Rp.10.000 - Rp.30.000

Berikut videonya:




Share:

AIR MUJIZAT DI DESA LALUMPE

http://iswadisual.blogspot.co.id/
Salah satu hal yang khas di desa Lalumpe - yang namanya diambil dari nama jenis tanaman kayu ini - yang sudah menjadi legenda dan cerita turun temurun adalah Air Mujizat. Hal unik pertama yang akan muncul ketika kita bertanya tentang desa ini adalah Air Mujizat; baik orang tua maupun yang muda. Ceritanya di mulai sekitar tahun 1937 ketika rombongan mapalus yang berjumlah 13 orang yang dikepalai oleh Simson dan Aflis Sengkey sedang kehausan dan mencari air di perkebunan yang disebut maumbi. Kedua orang tersebut merupakan tua-tua jemaat di Pantekosta. Tetapi rombongan mapalus itu merupakan gabungan dari jemaat Pantekosta (GPDI), GMIM, dan Katolik.  Pada waktu itu musim kemarau yang cukup panjang berlangsung sampai sepuluh bulan. Sumber mata air desa sudah kering sehingga terjadi krisis air dan orang-orang mulai mencari sumber mata air yang baru.
Terinspirasi dari kisah Musa dalam kitab suci orang Kristen (Alkitab) maka dengan iman mereka berdoa – yang dipimpin oleh Simson Sengkey - kepada Tuhan. Awalnya tanah menjadi lembab dan akhirnya dari antara bebatuan yang terletak di lereng bukit muncullah mata air. Air yang ada di situ cukup melegenda oleh karena tak pernah menjadi kering sekali pun di musim kemarau yang panjang. Anehnya juga air di tempat ini tidak ditinggali katak atau jentik nyamuk padahal airnya tidak mengalir. Dalam masyarakat desa Lalumpe yang sangat religius-kristen menjadikan tempat ini sebagai bukti iman mereka sehingga di tahun 2011 pada HUT GPDI dibuat aksi teaterikal tentang mujizat Tuhan di desa Lalumpe. Air mujizat ini hanya merupakan genangan yang tidak mengalir walaupun tempatnya di kemiringan. Kondisi tempat air mujizat dari tahun ke tahun terjadi perubahan baik secara alami maupun campur tangan masyarakat desa. Dulunya, menurut seorang warga desa genangan air di tempat itu ada beberapa tetapi memiliki pusat genangan yang lebih besar dari yang lain. Tetapi sekarang ini tinggallah satu genangan air di sana.
Dari tahun 1937 sampai 1962 cerita tentang air mujizat terlupakan dan akhirnya seorang pendeta yang juga sebagai wartawan yaitu Nicky Sumual berusaha menggali sejarahnya kembali untuk melengkapi sejarah perkembangan Pantekosta. Dalam kurun waktu ini nama untuk menunjukkan tempat bersejarah itu belum ada sehingga terjadi tawar menawar antara Pendeta Kumajas dan Nicky Sumual untuk memberi nama tempat itu. Pendeta Kumajas menawarkan nama air Mujizat sementara Pendeta Nicky Sumual mengusulkan nama Air Sembayang. Tetapi akhirnya dalam penulisan sejarah Pendeta Sumual menggunakan nama Air Mujizat.
Mahasiswa KKN Unima saat berada di lokasi Air Mujizat
Pada tahun 1986 ketika  Air Mujizat telah menjadi pembicaraan di kalangan jemaat Kristen maka misionaris dari Kanada, Amerika, Australia dan juga hamba-hamba tuhan yang berasal dari Jawa datang berkunjung di desa Lalumpe untuk melihat tempat di mana ada Air Mujizat. Mereka juga masing-masing mengambil air dari tempat itu yang mungkin dijadikan sebagai kenang-kenangan atau souvenir yang mereka isi dalam botol. Oleh karena semakin banyak orang yang tahu dan tertarik untuk mengunjungi tempat ini maka sebagian masyarakat Lalumpe ingin membuat tempat itu menjadi objek wisata dengan pertimbangan ekonomis. Hal ini mendapat protes dari masyarakat yang lain oleh karena menurut mereka mujizat Tuhan tidak seharusnya diperlakukan sebagai objek wisata apalagi membayar karcis masuk.
 Ketika kita melihat secara langsung tempat Air Mujizat ini mungkin sangatlah berkesan biasa saja. Tetapi dalam masyarakat Lalumpe - khususnya jemaat Pantekosta - ada makna lebih mendalam yang diwariskan kepada beberapa generasi di desa ini. Seakan-akan Aer Mujizat adalah salah satu identitas masyarakat ini yang merupakan bukti dari kepercayaan atau iman kristiani tua-tua mereka dahulu. Kekristenan memang telah menyatu dengan jiwa masyarakat di desa ini sehingga kebanyakan cerita dari masyarakat selalu berkaitan dengan Kekristenan.
Air mujizat merupakan tempat yang bersejarah dan menjadi tempat yang keramat di desa Lalumpe. Sehingga hampir seluruh masyarakat mengetahui akan cerita dan tempat Air Mujizat. Memang dulunya ada warga yang tidak percaya dengan cerita tentang tempat ini sehingga dia tidak menghargainya. Suatu waktu dia ingin menguji kekeramatan Air Mujizat dengan membawa sapi untuk diberi minum di tempat itu. Hari berikutnya sapinya mati dan dia mendapat bukti bahwa tempat itu bukanlah tempat biasa. Memang ketika sejarah yang diceritakan dari generasi ke generasi mendapat tanggapan yang tak acuh dan justru mengabaikannya. Generasi sekarang memang kurang menghargai nilai-nilai historis bangsanya sendiri. Tak jarang generasi muda sekarang jika ditanya tentang sejarah tempat mereka tinggal dijawab dengan kata ‘tidak tahu’. Rasionalitas barat telah memberi kerangka berpikir yang membuat kita menjadi ragu dan bahkan tidak percaya dengan diri kita sendiri. [ Sumber cerita di ambil dari blog http://iswadisual.blogspot.co.id/2011/07/air-mujizat-di-desa-lalumpe.html ]
Share: